Tampilkan postingan dengan label terjemahan al-hikam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label terjemahan al-hikam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 November 2021

7 Masa dan 7 Ayat Surat Al-Fatihah


"Jadi, mari kita tutup bersama-sama dengan membaca surat Al - Fatihah…”

***

Sering dalam pertemuan atau majelis, pembaca pasti sudah berulang-ulang mendengar kata-kata atau kalimat diatas. Terutama di majelis pengajian, imam menutup ceramah dan acara majelis dengan bacaan Al - Fatihah. Dimanapun kita temui, di sudut kota dan sudut pedesaan, di kabupaten, dan kotamadya, di Negara kita atau Negara tetangga, di dunia online (internet) dan  dunia offline (dunia empirik -kata bahasa gaul…), protokoler semacam itu sudah menjadi adat dalam tata cara pergaulan umat Islam sehari-hari.

Negara-negara yang berpedoman dengan nilai Islam umumnya, menyampaikan apa yang menjadi tabir dalam sistem kosa-kata hijab terutama apa yang menyangkut al- quran, dan apa yang perlu diketahui terutama terkait dengan kejadian di kemudian hari, disampaikan dengan pola yang tersusun rapi agar tidak ada satupun yang hilang. Apa yang disampaikan adalah kunci dan biasanya imam (orang yang berdiri di depan) akan senantiasa menjaga harokat dalam setiap kata dan terutama, dalam menjelaskan setiap susunan pola. Bahwa, kunci adalah ucapan mereka para imam dan dengan demikian, mereka akan memegang teguh setiap prinsip dalam berdakwah dan menjaga keselarasan adat, terutama menyangkut simbol Al-quran agar tetap sesuai dengan runutannya.

Kapanpun dan dimanapun, imam adalah mereka para pembawa sajak yang telah memiliki wewenang dalam menyampaikan, menyebarkan dan terutama menjaga tata cara islam, agar tetap sesuai dan tegak mampu berdiri menjadi  pedoman yang terus membimbing, kita-kita atau kami para murid untuk mampu memecahkan teka-teki dari simbol Al-quran. Melalui kunci yang keluar dari ucapan dan cara mereka membimbing, merekalah para imam yang telah berjasa besar dalam membuat kita mengerti tentang nilai sebenarnya dari kitab Al-quran.

Dalam terjemahan kitab Al-Hikam (Salim Bahreisy), dikatakan bahwa…seorang berkata : beberapa kali saya telah meninggalkan usaha kasab tetapi terpaksa kembali berkasab, sehingga akhirnya akulah yang ditinggalkan oleh kasab itu, maka tiadalah aku kembali kepadanya. Seorang murid merasa…bahwa untuk sampai kepada Allah dan masuk dalam barisan para wali dengan sibuk pada ilmu dhahir (terang), dan bergaul dengan sesama manusia agak jauh dan tak mungkin, lalu ia pergi menghadap kepada gurunya, tiba-tiba sebelum ia sempat bertanya, sang guru bercerita, “Ada seorang terkemuka dalam ilmu dhahir, ketika ia dapat merasakan sedikit dari perjalanan ini, ia datang kepadaku dan berkata : “aku akan meninggalkan kebiasaanku untuk mengikuti perjalananmu…”

Namun sang guru menjawab dalam ceritanya, bukan itu yang harus kamu lakukan, tetapi tetaplah dalam kedudukanmu, sedang apa yang akan diberikan Allah kepadamu pasti sampai (tercapai) kepadamu tanpa kamu harus merasa bersusah payah menjalani yang demikian.

Dan tiadalah kamu berkehendak, kecuali apa yang dikehendaki Allah Tuhan yang mengatur seisi alam.

Janganlah kelambatan masa pemberian Tuhan kepadamu, padahal engkau bersungguh-sungguh dalam berdoa menyebabkan patah harapan, sebab Allah telah menjamin menerima semua doa dalam apa yang ia kehendaki untukmu…bukan menurut kehendakmu dan pada waktu yang ditentukan-Nya. Bukan pada waktu yang engkau tentukan.

Mungkin kamu membenci sesuatu padahal itulah yang baik bagimu, dan mungkin kamu suka pada sesuatu padahal bahaya bagimu, dan Allah yang mengetahui sedang kamu tidak mengetahui…

Sebaiknya seorang murid, atau dikatakan hamba, yang tidak mengetahui apa yang akan terjadi mengakui kebodohan dirinya, sehingga tidak memilih sesuatu yang tampak baginya sepintas lalu baik, padahal ia tidak mengetahui bagaimana akibatnya…Karena itu bila Tuhan yang maha mengetahui dan maha bijaksana memilihkan untuknya sesuatu, hendaknya rela dan menerima pilihan Tuhan Yang Maha belas kasih lagi mengetahui dan bijaksana itu. Walaupun pada lahirnya pahit dan pedih rasanya…namun itulah yang terbaik baginya. Karena itu bila berdoa, kemudian belum juga tercapai keinginannya…janganlah keburu patah harapan.

Abu Hasan Asy Syadzily r.a. ketika mengartikan ayat (S. Yunus Ayat 89)

Sungguh telah diterima doamu berdua (Musa dan Harun a.s.) yaitu tentang kebinasaan Fir’aun dan bala tentaranya. Maka kamu berdua tetap istiqomah (sabar dalam melanjutkan perjuangan dan terus berdoa), dan jangan mengikuti jejak orang-orang yang tidak mengerti (kekuasaan dan kebijaksanaan Allah).

Maka terlaksananya kebinasaan Fir’aun yang berarti setelah diterima doa itu, yaitu sesudah 40 tahun.

Jangan sampai meragukan kamu, terhadap janji Allah, karena tidak terlaksananya apa yang telah dijanjikan itu, meskipun telah tertentu (tiba) masanya, supaya tidak menyalahi pandangan mata hatimu, atau memadamkan nur cahaya hatimu (sirmu).

Manusia sebagai hamba tidak mengetahui bilakah Allah akan menurunkan kurnia Rahmat-Nya, sehingga manusia jika melihat tanda-tanda ia menduga (mengira) mungkin telah tiba saatnya…padahal bagi Allah belum memenuhi semua syarat yang dikehendaki-Nya. Maka bila tidak terjadi apa yang telah dikira-kira itu, hendaknya tiada ragu terhadap kebenaran janji Allah.

Sebagaimana yang terjadi dalam Sulhul Hudaibiyah, ketika Rasulullah Muhammad SAW, menceritakan mimpinya kepada para sahabat sehingga mereka mengira bahwa pada tahun itu, mereka akan dapat masuk Mekkah dan melaksanakan ibadah umrah dengan aman sejahtera (yaitu mimpi Nabi SAW, yang tersebut dalam surat Al - Fathi ayat 27). Sehingga ketika gagal tujuan umrah karena ditolak oleh bangsa Quraisy, dan terjadi penanda tanganan perjanjian Sulhul Hudaibiyah, yang oleh Umar dan sahabat-sahabat lainnya dianggap sangat mengecewakan.

Maka ketika Umar r.a. mengajukan beberapa pertanyaan, dijawab oleh Nabi SAW bahwa: “Aku adalah hamba Allah dan utusan-Nya, dan Allah tidak akan mengabaikan aku.

Dalam menghadapi ujian Allah, sehingga Rasullullah dan para sahabat yang percaya kepada-Nya sama-sama berkata, “Bilakah tibanya bantuan (pertolongan) Allah? Ingatlah…sesungguhnya bantuan pertolongan Allah telah hampir tiba (amat dekat). (QS: Al-baqarah 214)

Sang guru berkata…Karena itulah tiap orang saleh yang akan menuju pada suatu tingkat tertentu harus mengerti dalam ibadat yang mana ia dapat merasakan nikmat ibadat tersebut. Dalam keberserah dirian yang mana ia dapat merasakannya. Maka disitulah akan terbuka pintu baginya.

Bagaimana akan dapat terang hati seseorang yang gambar dunia ini terlukis dalam lensa / cermin hatinya. Atau bagaimana akan pergi menuju kepada Allah, padahal ia masih terikat (terbelenggu) oleh syahwat hawa nafsunya. Atau bagaimana akan dapat masuk ke hadirat Allah, padahal ia belum bersih (suci) dari kelalaiannya yang disini diumpamakan dengan janabatnya. Atau bagaimana akan mengerti tentang rahasia yang halus (dalam), padahal ia belum taubat dari kekeliruan-kekeliruannya…

Berkumpullah dua hal yang berlawanan dalam satu tempat dan masa. Yang mana hal tersebut adalah mustahil (tidak mungkin), sebagaimana berkumpul antara diam dengan gerak, antara cahaya terang dan gelap. Demikian pula nur (cahaya) iman berlawanan dengan gelap yang disebabkan karena selalu masih berharap atau bersandar kepada sesuatu selain Allah. Demikian pula berjalan menuju kepada Allah…harus bebas dari belenggu hawa nafsu supaya sampai kepada Allah.

Alam semesta yang mulanya tidak ada memang gelap, sedang yang men-dhahir-kannya sehingga berupa kenyataan, hanya kekuasaan Allah padanya…karena itu siapa yang melihat sesuatu benda di alam ini, kemudian tidak terlihat olehnya kebesaran kekuasaan Allah yang ada pada benda itu, sebelum atau sesudahnya, berarti ia telah disilaukan oleh cahaya. Bagaikan ia melihat cahaya yang kuat, lalu ia mengira tidak ada bola yang menimbulkan cahaya itu. Maka semua seisi alam ini bagaikan sinar, sedang yang hakiki (sebenarnya) semua yang terlihat itu adalah semata-mata kekuasaan zat Allah SWT.

Alam ini semuanya berupa kegelapan, sedang yang meneranginya, hanya karena tampaknya haq (Allah) padanya, maka siapa yang melihat alam kemudian tidak melihat Allah di dalamnya, atau padanya atau sebelumnya atau sesudahnya, maka benar-benar ia telah disilaukan oleh nur cahaya, dan tertutup surya (nur) ma’rifat oleh tebalnya awan benda-benda alam ini.

Keikhlasan seseorang dalam amal perbuatannya menurut tingkat kedudukannya, maka keikhlasan orang Abrar (Abror), yaitu apabila amal perbuatan itu telah bersih dari riyaa’ yang jelas maupun yang samar. Sedang tujuan amal perbuatan mereka selalu hanya pahala yang dijanjikan oleh Allah kepada hambanya yang ikhlas. Dan ini terambil dari ayat : “Iyyaka na ‘budu”, Hanya kepada Mu kami menyembah dan tiada kami mempersekutukan Engkau kepada sesuatu yang lain.

Adapun keikhlasan orang-orang Muqarrabin ialah menerapkan pengertian : “Laa haula wala quwwata illa billahi”, tiada daya untuk mengelakkan, dan tiada kekuatan untuk berbuat apapun kecuali dengan pertolongan langsung dari Allah. Tiada daya kekuatan sendiri, sedang semua itu hanya daripada Allah. Ia merasa bahwa semua amal perbuatan semata-mata karunia Allah kepadanya, sebab Allah yang memberi hidayah dan taufiq. Ini terambil dari ayat : “Iyyaka nasta ‘in”, Hanya kepada Mu kami mengharap bantuan pertolongan, sebab kami sendiri tidak berdaya.

Amal orang Abrar dinamakan Amal lillah atau beramal karena Allah. Sedang amal orang Muqarrabin dinamakan Amal billahi, atau beramal dengan bantuan kurnia Allah.

Amal lillah menghasilkan sekedar memperhatikan hukum lahir, sedangkan amal billahi menembus ke dalam perasaan hati.

Ada kalanya Allah memberi kepadamu kekayaan (kesenangan) dunia, tetapi tidak memberi kepadamu taufiq hidayah-Nya. Dan ada kalanya Allah menolak tidak memberi kamu dari kesenangan dunia dan kemewahan Nya, tetapi memberi kepadamu taufiq dan hidayah Nya.

Muhyiddin Ibn Araby berkata, “jika ditahan permintaanmu maka berarti engkau telah diberi, dan jika segera diberi permintaanmu berarti telah ditolak dari sesuatu yang lebih besar. Karena itu utamakan tidak dapat, daripada dapat dan sebaiknya seorang hamba itu tidak memilih sendiri, tetapi menyerah sebulat-bulatnya kepada Tuhan yang menjadikannya, yang mencukupi segala kebutuhannya.”

 Abul Hasan Assyadzily r.a. berkata, “Alqabdhu was basthu (risau hati dan riang hati) selalu silih berganti dalam perasaan tiap hamba, bagaikan silih berganti siang dan malam. Dan sebabnya qabdh (risau hati) itu salah satu dari tiga : karena dosa atau kehilangan dunia, atau dihina orang. Maka adab seorang hamba, jika merasa berdosa harus segera bertaubat, dan jika kehilangan dunia, harus rela dan menyerah kepada hukum Allah, dan bila dihina orang harus sabar. Dan apabila terjadi qabdh (risau hati) itu tidak diketahui sebabnya, maka harus tenang menyerah. Insya Allah jika tenang menyerah, tidak lama akan sirna masa gelap dan berganti dengan terang.

Ada kalanya terang bintang yaitu ilmu, atau sinar bulan yaitu tauhid, atau matahari yaitu ma’rifat, tetapi jika tidak tenang dimasa gelap (risau hati) mungkin akan terjerumus dalam kebinasaan…

Adapun dalam masa baseth (riang hati), maka sebabnya adalah satu dari tiga : karena bertambahnya kelakuan ibadat (taat) dan bertambahnya ilmu ma’rifat atau bertambahnya kekayaan atau kehormatan, dan yang ketiga karena pujian dan sanjungan orang kepadanya. Maka adab seorang hamba : jika merasa bertambah taat ibadahnya dan ilmu ma’rifatnya harus merasa itu semata-mata kurnia Tuhan, dan berhati-hati jangan sampai merasa bahwa itu dari kerajinan sendiri. Dan jika mendapat tambahan keduniaan, maka ini pula yang harus dianggap bahwa itu semata-mata kurnia Allah, dan harus waspada jangan sampai terkena bahayanya.

Sang guru menghela nafas sejenak…kemudian melihat ke arah muridnya dalam-dalam…

Sang guru kembali berkata, perbaikilah amal perbuatanmu dengan ikhlas, dan perbaikilah keikhlasanmu itu dengan perasaan tidak ada kekuatan sendiri. Bahwa semua kejadian itu hanya semata-mata karena bantuan pertolongan Allah ta’ala.

Dan jagalah dirimu jangan sampai kamu merugikan dirimu dua kali, yakni dengan perbuatanmu sendiri, dan hinaan (aniaya) orang lain.

“Apa kau cukup dhahir (terang) mendengar dan mencerna cerita ku ini wahai muridku…”

“(Sang murid terlihat tercengang sesaat…namun tak lama kemudian menangguk tanda mengerti)”

Kalau begitu, marilah kita sudahi bersama-sama dengan membaca surat Al-Fatihah…” sang guru mengakhiri.

(Sang murid pun lantas mengamini…)

QS. Al - Fatihah



Mayuukha Illaiya Mirrabbi.

Ma’alamah Syutasa Malaa Rayasaa

Wassalamu alaikum Wr.Wb.

Sumber : Terjemahan Al - Hikam (H. Salim Bahreisy)

7 Masa dan 7 Ayat Surat Al-Fatihah

"Jadi, mari kita tutup bersama-sama dengan membaca surat Al - Fatihah…” *** Sering dalam pertemuan atau majelis, pembaca pasti sudah ...