Sabtu, 21 Agustus 2021

Huruf Kesepuluh (Bagian : 2)

Ssttt...sedang mencuri dengar

Ar-Ra’d ayat 38 : Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu, dan kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan. Dan tidak ada hak bagi seorang Rasul mendatangkan suatu ayat (mujizat) melainkan dengan ijin Allah. Bagi tiap-tiap masa ada Kitab yang tertentu.

Ar-Ra’d ayat 39 : Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan disisi-nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh).

Dalam Surat Ar-Ra’d ayat 38 dan 39, terdapat keterangan mengenai Ummul Kitab (Lauh Mahfuzh), dimana hanya disisi Allah SWT lah semua sumber pengetahuan dan keterangan yang Dia kehendaki tersurat, dan apa yang masih tersimpan rapat dan menjadi misteri, hanya Allah sang pemberi keterangan yang mampu mengungkap maksud apa yang masih tersembunyi. Dan jika tidak ada ijin Allah SWT, tidak akan terungkap maksud sebenarnya yang diinginkan. Atau tidak ada jawaban ayat atas penjabaran yang belum waktunya untuk diungkap.

Ekspos cerita mengenai Lauh Mahfuzh dalam Quran, menurut keterangan ayat di atas sebenarnya adalah tempat dimana semua tulisan suci (kitab) berasal. Lauh Mahfuzh adalah tempat mengarungi kebijaksanaan, dan dengan cara yang berhasil disusun, apa yang dijabarkan sama sekali tidak mengurai mimpi (bukanlah bualan). Tempat dimana jarak membentang begitu luas, sehingga setiap tulisan yang disusun, meluaskan pandangan dan membuat bijaksana bagi siapapun yang membacanya. Tempat sebenarnya dari semua huruf yang tampak dan tersembunyi. Lauh Mahfuzh (Ummul Kitab), disana tersimpan perkara bijak menyangkut apa yang perlu dilakukan, termasuk perkara yang tersegel rapi namun tersembunyi atas apa yang belum terlihat dan dinyatakan dilarang untuk dipertanyakan sebelum waktunya.

Namun iblis yang terkutuk mencuri dengar. Iblis mengenal perkara yang gaib, dan dunia iblis terus-menerus mengungkit-ungkit tentang perkara yang sebenarnya sudah diputuskan kebijaksanaannya, (termasuk menyangkut yang gaib yang belum waktunya diperkarakan). Namun iblis yang penasaran belumlah mengerti tentang perkara bijaksana yang dimaksud, sehingga ia memutuskan untuk pergi ke Lauh Mahfuzh lalu mencuri dengar. Disini, maksud mengenai “iblis mengetahui perkara yang gaib,” sebenarnya adalah hasil dari perbuatan iblis yang lalu yang mencuri dengar. Kemudian, kenapa iblis tertarik untuk kembali mencuri dengar? Keterikatan iblis untuk pergi ke tempat tersebut sebenarnya didasari oleh kecemburuan yang terus-menerus. Dikatakan bahwa iblis tidak mau menuruti perintah Tuhan dan hal tersebut terlihat dengan bantahan iblis atas perintah tunduk kepada Adam. Iblis yang menurut kebijaksanaannya (cara bijak), menentang keputusan Tuhan dilandasi oleh fakta bahwa penciptaan Adam tidak memenuhi syarat untuk membuat iblis patut tunduk dan menyembahnya. Karena asal-muasal iblis adalah unsur panas atau api, sedangkan asal Adam adalah tanah yang diberi dibentuk. Tanah yang seharusnya tunduk kepada api, bukan api yang tunduk kepada tanah. Hal itulah yang mendasari ketidakpuasan iblis. Lalu, kenapa Tuhan memerintahkan iblis untuk tunduk kepada Adam? Apakah keterangan Tuhan menyangkut perkara yang masih tersembunyi dan yang bukan waktunya untuk diungkap?

Dikatakan dalam Quran bahwa “Iblis diberi tangguh,” sampai batas waktu yang ditentukan. Perkara yang sudah diputuskan tidak membuat iblis puas, tapi iblis “yang diberi tangguh” memutuskan untuk terlebih dahulu mencari tahu tentang perkara yang belum waktunya diputuskan.

Lauh Mahfuzh tertutup dan dijaga ketat oleh malaikat. Untuk jenis yang sebenarnya tidak memiliki kepentingan untuk mengetahuinya, termasuk iblis, malaikat tidak mengijinkan masuk.

Al-Hijr ayat 17 : dan Kami menjaganya dari tiap-tiap syaitan yang terkutuk.

Al-Hijr ayat 18 : kecuali syaitan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat), lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang.

Namun Iblis memakai cara-cara ilusi. iblis yang licin memiliki beragam tipu muslihat sehingga ia berhasil masuk dan mencuri dengar.

Al-Hijr ayat 14 : dan jika seandainya kami membukakan kepada mereka salah satu dari (pintu-pintu) langit, lalu mereka terus-menerus naik ke atasnya.

Al-Hijr ayat 15 : tentulah mereka berkata, “Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan, bahkan kami adalah orang-orang yang kena sihir.”

Dan iblis yang berhasil masuk, kemudian hanya memperoleh “yang sedikit”, sebelum kembali melarikan diri. Namun iblis adalah penyusun yang menjerumuskan. Membuat yang sedikit itu seolah-olah adalah perkara yang luar biasa besar di kemudian hari adalah keahlian yang dimiliki iblis. Iblis berhasil kabur dan membawa yang sedikit tersebut ke suatu tempat, dan kemudian menyimpannya.

Pada tahun 1949, pada suatu siang yang terik, dimana angin laut mediterania berhembus sepoi-sepoi, saat itu sedang musim panas, sekelompok arkeolog yang dipimpin oleh Antonio Prova, sedang melakukan penggalian pada sebuah situs teater kuno “Caesarea Maritima”. situs tersebut merupakan situs peninggalan kerajaan Yunani-Romawi pada jaman Mediterania Kuno. Rencananya adalah rekonstruksi utuh dari situs bangunan teater tersebut sehingga ditemukan keseluruhan konsep bangunan. Namun secara tak terduga, saat penggalian mereka menemukan sesuatu yang menarik. Dari bagian pilar sebelah selatan, pada kedalaman 3 meter, ditemukan sebuah lembaran dengan tulisan di kedua sisinya.

Lembaran yang kemudian diberi judul “From Caesarea Maritima Against a Dancer” ternyata adalah defixionum (latin : defixiones) tabellae atau “lembar kutukan”.

Tempat ditemukannya
"lembar kutukan Caesarea Maritima Against a Dancer"

Defixiones Tabellae

Defixiones adalah bentuk latin dari kata defixionum yang berarti “kutukan”, sedangkan tabellae adalah “lembar” atau “lembaran”. Dan dengan demikian defixiones tabellae berarti juga “lembar kutukan”.

“Lembar kutukan” sendiri sebenarnya adalah penyebutan untuk karangan yang tertulis dalam lembar timah tipis yang kemudian digulung, dilipat lalu di dibuang di dalam lubang, kolam, atau sumur yang dalam, ditimbun, atau dikubur di dalam makam, yang biasanya terletak di dekat kuil. intinya membuat lembar kutukan tersebut berada di dunia bawah menurut kepercayaan yunani-romawi, atau ditempatkan di bawah tanah. Atau pada beberapa penemuan ditempatkan di dalam kuil yang di buat di bawah tanah, yang biasanya lembar kutukan dapat juga berbentuk lembaran dari tanah liat yang sudah dibakar, seperti yang terdapat dalam budaya Mesir kuno.

Lembar kutukan memiliki bentuk yang cenderung identik satu sama lain. dikatakan defixiones atau kutukan karena seringnya, memuat unsur kebencian dari pengarangnya, kepada subjek (yang berupa benda) atau sosok atau orang yang dituding (bisa juga hewan). Menulis di dalam lembaran bersifat memperlihatkan dan harapan atas apa yang diperlihatkan kemudian disampaikan kepada dewa, iblis, atau roh orang yang sudah meninggal untuk memberikan kekuatan gaib agar memiliki efek “terjadi” atas apa yang sudah tertulis di lembar kutukan tersebut.

Menurut apa yang tertulis di Wikipedia, orang-orang dari masyarakat Yunani-Romawi (Jaman Mediteranian Kuno dimana defixiones berasal) percaya bahwa mereka dapat menggunakan sihir untuk mengendalikan alam. Semua anggota masyarakat, terlepas dari status ekonomi, atau kelas, mereka menggunakan sihir semacam itu. Dengan memohon kepada dewa di kuil, iblis digunung, atau roh orang yang sudah meninggal, kebijaksanaan alam akan mendorong agar harapan orang dapat terkabul. Permohonan yang tertuang di lembar kutukan, ditujukan tak lebih untuk memberikan mantra atas defixio atau kutukan, kepada subjek atau orang (bisa juga hewan) yang dimaksud.

Temuan lembar kutukan “From Caesarea Maritima Against a Dancer” dianggap mengejutkan oleh para antropolog italia yang melakukan penggalian, karena menyebut nama Pilatus. Pontius Pilatus nama lengkapnya yang menurut Wikipedia adalah seorang gubernur ke 5 yang memerintah Provinsi “Iudaea” pada jaman Kekaisaran Romawi. Menjabat antara tahun 26 - 36 M saat kaisar Tiberius memimpin. Pilatuslah yang mewakili pemerintah romawi di Jarusalem untuk mengadili Yesus Kristus yang ditangkap di Taman Getsemani. Setelah menyelidiki perkara Yesus, Pilatus mengakui bahwa tidak ada suatu kesalahan pun yang patut ditimpakan kepadanya (Yesus). Namun hukum yang berlaku tidak mengijinkan Yesus untuk dapat dibebaskan begitu saja, bahkan sebaliknya ia mengikuti keinginan massa untuk menyalibkan Yesus. Nama Pilatus sekarang diabadikan sebagai nama sebuah gunung di gugusan pegunungan Alpen, di Swiss.

Lembar kutukan “From Caesarea Maritima Against a Dancer” memiliki 2 sisi yang mana, masing-masing sisi terdapat cetakan tulisan dengan total panjang sebanyak 110 baris. Dalam ”Litterae Magicae, Studies In Honour  of Roger S.O Tomlin,” dan dicetak di Universitas Zaragoza Spanyol, Celia Sanchez Natalias menulis ulang teks Caesarea Maritima Against a Dancer dalam bahasa Inggris, dan melaporkannya terbagi menjadi sisi A dan sisi B.

Defixiones Tabella
"Caesarea Maritima Against a Dancer"
 

Sisi A tertulis (sesuai teks asli dalam bahasa Inggris) :

Come to me, Thoth, ageless god, with a saw-toothed peplos, lord of Tartaros, you who make the black coloured marriage last longer, … the dark pronaoi…who cuts the innermost part of the darkness, who has the tail of a snake, having the head of a mouse (or of a fly ?), hippopotamus, having the face of a lion, with the tail which is carried by a bird... producing no voice (?), in a water-pot he raises the good…, thinking (? that) he accomplishes the desires of (or follows) those who…in the whole cosmos … to Isis, he is carried by snakes …, he who (enchained) his own father… (highest?) in adamantine and indissoluble (chains) and, thanks to his good qualities, received the order to fall down onto earth and beget the Hypochthonios (i.e. the subterranean god), who committed violence against his generative organs in the abyss (and begot) Aphrodite Aroriphrasis. Phnoukentab╬┐pis, I invoke you, violent Acham-… of the holy customs … set apart …Manna … tie the feet together, hinder the dance of Manna …for bending (his) legs. Burning, shaking the cosmos… the uninhabited land, shake, shake off, turn down Manna… whom Rufina bore, let Manna be the sole object of common talk.… …Demons of the sky, demons of the air, demons of the earth, underworld demons, demons of the sea, of the rivers, demons of the springs, violent demons, … demons of untimely dead people, flying (?) demons …, demons… and do not allow Manna whom Rufina bore… (Bind ?) his feet, his hands, he should leave….. he should dance out of step, he should fall down either towards the theatre or… the stupid like a tunny-fish (or the Thynian) Manna whom Rufina bore should be intolerable, wear his clothes badly in the theatre, because I adjure you by the names which were revealed to the gods: “Karosour.tr.mir phorbolol surpar Iarbath agramne phibao”. Wake you up for me, bind down the eyes, the hands, the feet, which should be slack for Manna when he will dance in the theatre….. Manna, the dancer, whom Rufina bore, because (I bind?) you thoroughly in the name of Amosebath Anoch… Thotho (i.e. Thoth the great)…Bar in the god Krethethibe, Manna, when dancing, whom Rufina bore, because I adjure you Oai hippiyeschao…araracharara the phthisikere… I adjure the vowels (which are) with you, the queen, the goddess, Iaiao Akouai Psoa Barpharadon Iazarabib Alethmar..apebalaemaeth Barichammoth Keybkothkebaro..o …Sisiphermou Chnouor Abrasax, Manna should be assaulted… Lords Angels, I adjure you… by the force of your Lord god… twist, darken, bind down, bind down together the eyes, the hands of… as soon as possible… being (not ?) tuned in…he should move slowly and lose his equilibrium… (he should suffer from) itching, maim, put to silence Manna whom Rufina bore… his attention… he should be bent and unseemly… to will… an unlucky day… … in the city… loosen (?), he should be unseemly, he should have an unlucky day before the whole (people?, audience?) …him… of the... in the… he, Manna whom Rufina bore, should be unseemly immediately immediately, quickly quickly… of the dance, immediately immediately, quickly quickly.

Terjemahan dari sisi A dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut :

Datanglah Padaku, Thoth, sang dewa abadi, dengan peplos yang bergigi runcing,penguasa Tartaros, kau yang membuat warna hitam menikah bertahan selamanya,…pronaoi yang gelap…yang memotong bagian terdalam dari kegelapan, yang memiliki ekor ular, yang memiliki kepala tikus (atau sesuatu yang terbang?), hippopotamus, yang memiliki wajah singa, dengan ekor yang dibawa burung…yang tidak bersuara(?), di dalam kubangan air dia membangkitkan kebaikan…, berfikir(?bahwa)dia telah memenuhi keinginan(atau mengikuti) mereka yang…di seluruh kosmos…kepada Isis, dia yang dibawa oleh ular…, dia yang (diperbudak) ayahnya sendiri… (yang paling tinggi?) dalam adamantin dan tak terpisahkan (rantai-rantai) dan, bersyukurlah untuk kualitas baiknya, yang menerima perintah untuk turun ke bumi dan melahirkan Hypochthonios (yaitu, dewa bawah permukaan) yang bersedia melakukan kekerasan melawan organ generatifnya di jurang (dan melahirkan) Aphrodite Aroriphrasis. Phnoukentabopis, aku memohon kepadamu, Acham yang kasar…sebuah kebiasaan suci…memisahkan…Manna…ikatlah talinya bersama-sama, menghalangi tarian Manna..untuk menekuk kaki (nya). Terbakar, kosmos berguncang…tanah yang tak bisa dihuni, terguncang, bergoyang, turunlah Manna…yang dikandung Rufina, biarkan Manna menjadi satu-satunya yang diperbincangkan… …iblis yang menghuni langit, iblis yang menghuni udara, iblis yang menghuni bumi, iblis dunia bawah, iblis yang menghuni laut, sungai, iblis yang menghuni musim semi, iblis yang kasar, …iblis yang berasal dari orang yang mati, terbang (?) iblis…, iblis… dan jangan ijinkan Manna yang dikandung Rufina…(terikat?) kakinya, tangannya, dia harus pergi…dia harus berdansa menjauh, dia harus turun ke bawah entah mengarah ke teater atau… si bodoh yang seperti seekor ikan tunny (atau Thynian) Manna yang dikandung Rufina seharusnya tidak berkompromi, memakai pakaiannya yang berantakan di teater, karena aku memintamu atas nama beliau yang diungkap para dewa: “Karosour.tr.mir phorbolol surpar larbath agramne phibao”. Kau bangunlah untukku, biarkan matamu tertutup, dengan tangan, kaki, yang seharusnya kamu renggangkan untuk Manna saat dia akan menari di teater… Manna, sang penari, yang dikandung Rufina, karena (aku mengikat?) mu atas nama Amosebath Anoch… Thotho (yaitu, Thoth yang agung)… jarak dalam dewa Krethethibe, Manna, ketika berdansa, yang dikandung Rufina, karena aku memintamu Oai Hippiyeschao…araracharara the phthisikere…aku meminta nada (yang mana) dengan mu, sang ratu, sang bidadari, Iaiao Akouai Psoa Barpharadon Iazarabib Alethmar…apebalaemaeth Barichammoth keybkothkebaro…o … Sisiphermou Chnouor Abrasax, Manna harus diusir…Tuan Malaikat, Aku memintamu… dengan kekuatan paksaan dari Tuhanmu…memuntir, menggelapkan, menutup, menutupkan beriringan dengan mata, pemilik tangan yang…secepatnya…yang (tidak?) menjadi sekutu… dia harus bergerak perlahan dan kehilangan keseimbangan… (dia harus menderita) gatal, lumpuh, buatlah Manna yang dikandung Rufina diam… perhatiannya… dia seharusnya menunduk dan tidak terlihat seperti biasanya… untuk niat… hari yang sial… … di dalam kota … kehilangan (?), dia seharusnya tidak seperti yang terlihat/tak seperti biasanya, dia membawa hari yang sial sebelum semua (orang-orang?, pergi menonton?) … dia… segala… dalam suatu… dia, Manna yang dikandung Rufina, seharusnya tidak terlihat seperti biasanya segera segera, cepat cepat… dari menari, segera segera, cepat cepat.

Sisi B tertulis (sesuai teks asli dalam bahasa Inggris) :

Amen. Someone you… having the Green (faction), having strength, these… the winner and the applause… you should hinder… the judgement… as long as…Manna whom Rufina bore. Chych Bachych Bachachych Bakaxichych Bachabachych Menebeachych Badetophoth Bainchoook Samosilam Eulamo……Patathnax imiathar iou Erbeth iou Pakerbeth, io Bolchoseth iph Apomps, io the………Abrasax … to them… with force… to the breathless (people)………of the soul of…….joining in a shout….. safe, thinking carefully… he will be seen graceless. Phisikere Pai Phtha Phoza, bind… Lords gods… being unlucky in …

Sedang terjemahan dari sisi B dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut :

Amin. Seseorang darimu…yang (bergolongan) hijau, yang memiliki kekuatan, tersebut… pemenang dan tepuk tangan… kamu yang harus terikat… penghakiman… selama…Manna dikandung Rufina. Chych Bachych Bachachych Bakaxichych Bachabachych Menebeachych Badetophoth Bainchoook Samosilam Eulamo…Patathnax Imiathar iou Erbeth iou Pakerbeth, io Bolchoseth iph Apomps, io the… Abrasax… untuk mereka … dengan paksa … untuk mereka yang sedang terengah-engah (orang)… atas segala jiwa… bergabung untuk sebuah teriakan … selamat, berfikir hati-hati…dia akan terlihat tidak elok. Phisikere Pai Phtha Phoza, terikat…dewa-dewa…untuk sial…

***

Keterbukaan untuk mengutuk adalah nuansa disetiap defixiones atau “lembar kutukan”, dengan tema yang sebenarnya beragam namun ditujukan untuk penafsiran atas perilaku yang sejenis, yaitu membenci atau tidak menyukai. Sehingga definisi atas citra defixio selalu menjurus pada nada yang selalu mengutuk. Dinamika atas konsep dalam bermasyarakat memang mengganggap bahwa kutukan dapat diterima sepanjang, bahwa apa yang dibenci dan dikutuk tertulis hanya di lembar defixio.

“Caesarea Maritima Against a Dancer” hanyalah salah satu subjek cerita atas perilaku ketidaksukaan seseorang, yang mungkin dalam kondisi yang sebenarnya, sedang memainkan apa yang orang coba lihat sebagai bentuk, atau pola tradisi. yaitu pola tradisi penulisan defixiones. Kerumitan cerita dan nama tokoh yang disebut bisa jadi fakta atau bahkan sebaliknya, hanya fiktif dimana  sebenarnya hal tersebut adalah akal-akalan untuk membuat defixio menjadi semacam sarana untuk menyembunyikan “mantra” dan menunjukkan inti dari bentuk ikatan yang sebenarnya adalah kemapanan teka-teki yang sifatnya terselubung, dari keseluruhan jalan cerita yang terangkum di defixio. 

Defixiones dalam banyak temuan lebih memiliki sifat sebagai “kebencian atau ketidaksukaan yang diperlihatkan”. Berdasarkan pola bahasa yang tersusun, ekspresi yang sangat menonjol adalah keegoisan dan itu merupakan bentuk pengungkapan jati diri. namun, bukan hanya jati diri si penulis atau pengutuk tapi dalam hal ini, jati diri yang membuat watak bahwa apa yang tertulis adalah defixiones. kesimpulan awal yang terungkap sulit untuk membuat apa yang terungkap memiliki makna yang lain selain kutukan. namun, ketimbang mencoba untuk mencari tahu apa motivasi sebenarnya dari si pengutuk, blog trajectory lebih berminat untuk menganalisa bentuk gaya bahasa defixiones yang menonjolkan bentuk pola kata kerja "terikat" atau "ikatan", dimana nantinya blog trajectory akan mencoba membandingkan bentuk gaya bahasa yang terdapat di beberapa lembar kutukan yang lain selain "Caesarea Maritima Against a Dancer".      

Bentuk kata yang mengandung unsur “terikat” atau “ikatan” lebih menjurus pada sebuah seni dalam mengungkapkan apa yang sesungguhnya terjadi di alam semesta, atau kosmos, daripada bentuk padanan dari ikatan yang menyebutkan rasa cinta yang tak terbalas atau ego yang lain, pada sisi yang lebih psikologis manusiawi. Kutukan bukanlah bentuk ungkapan perasaan, tapi rumus atas apa yang lebih mirip diulas di ilmu fisika dan cabangnya yaitu astronomi. Dalam hal ini, daripada menyebut ego yang mendasari setiap ungkapan yang terdapat dalam lembar kutukan, “gravitasi” adalah bentuk yang paling bisa diungkap dari jenis bahasa “ikatan” atau “terikat” yang memang tersurat tersembunyi, atau sengaja tidak ditampakkan pada keseluruhan tema defixiones tabella. Sejauh yang bisa digali dan ditemukan, tidak ada makna yang lain kecuali mencoba mengungkap formasi dan gugusan gravitasi, dan makna yang tersirat tersebut mempengaruhi teka-teki cara atau pola pikir dari keseluruhan tulisan di defixiones. Disini, dasar atas temuan kata kerja “terikat” atau “mengikat”, lebih menonjol dan paling mudah diberi definisi daripada temuan bentuk kata kerja yang lain. dan kutukan atau mengutuk juga merupakan salah satu efek dari kehendak yang bekerja pada bentuk dasar kata “terikat” atau “ikatan”.

Defixio yang ditemukan di dekat Athenian Agora

Rodney S. Young dalam artikelnya “An Industrial District of Ancient Athens” (1951), memasukkan “editio princeps” dari lembar kutukan yang terbuat dari timbal dari awal abad ke 4 sebelum masehi, ditemukan tepat di luar sudut barat daya Agora, tepat di sisa-sisa dinding bata lumpur sebuah rumah yang disebut “Young”. Teks  di defixio yang ditemukan berbunyi :

"I bind down Aristaichmos the smith before those below and Pyrrhias the smith and his work and their souls and Sosias of Lamia and his work and soul and what they say and what they do {and what they dol}  and Hagesis of Boiotia.

Terjemahannya sebagai berikut :

“Aku mengikat Aristaichmos sang pandai besi sebelum mereka yang dibawah dan Pyrrhias sang pandai besi beserta pekerjaannya dan jiwa-jiwa mereka dan Sosias of Lamia dan pekerjaannya beserta jiwa dan apa yang mereka katakan beserta apa yang mereka kerjakan ( dan apa yang mereka kerjakan) dan Hagesis dari Boiotia.

Defixio menulis lebih jelas disini mengenai bentuk “terikat” atau “ikatan” dimana nama-nama yang telah disebut, akan memberikan jiwa dan pekerjaannya kepada si penulis defixio. Bentuk sebenarnya dari kutukan terlihat dari apa yang diminta oleh si penulis. Dari yang terbaca di atas, adalah jiwa dan pekerjaan yaitu pandai besi , dari nama-nama yang telah disebutkan.

Namun selain menyiratkan pola dengan dimensi bentuk “terikat” atau “ikatan”, kadang defixio menulis bentuk yang berlawanan. Contoh yang mengungkap pola berlawanan dengan bentuk “terikat” atau “ikatan” seperti yang tertulis dalam lembar kutukan Boiotia yang ditujukan kepada Zoilos, yang berasal dari abad ke 3 atau 4 sebelum masehi. Menceritakan bahwa ia (Zoilos) tidak akan bersatu dengan Anthera sama seperti lembar kutukan (yang disebut) tersebut, yang berada dikubur terpisah dari dunia manusia. Dan karena lembar kutukan terpisah dan terisolasi dari manusia, demikian juga Zoilos yang pada akhirnya akan terpisah dari Anthera.

“…and just as this lead (is) in some place separated from humans, so may Zoilos’ body be separated from Anthera — and touch and kisses and the intercourse of Zoilos and Anthera, and their thoughts … […] … just as the lead is completely separated, buried and isolated here, so too bury Zoilos quickly, and his activity, dealings, love and all the rest.”

Terjemahan :

“…dan sama seperti lembaran ini (ada) di suatu tempat yang terpisah dari manusia, demikian juga tubuh Zoilos yang dapat dipisahkan dari Anthera – dan sentuhan dan ciuman dan hubungan seksual Zoilos dan Anthera, dan pikiran mereka…[…]…sama seperti lembaran ini yang benar-benar terpisah, terkubur dan terisolasi disini, demikian juga segera kubur Zoilos, dan aktivitasnya, urusannya, cintanya, dan yang lain keseluruhannya.”

Bentuk “terikat” atau “ikatan” disini menjadi koyak di lembar kutukan yang ditemukan di Boiotia, namun bentuk “koyak” yang diceritakan tersebut, adalah bentuk yang sebenarnya terpisah atau terlepas dari situasi. Situasi yang dimaksud adalah situasi dimana sebelumnya telah membentuk suatu pola bentuk “terikat” atau “ikatan”, namun karena “terikat” atau “ikatan” disini, adalah sesuatu yang nyata tersirat koyak atau tidak bersatu, dengan bentuk cerita yang cenderung menyakitkan “terikat” atau “ikatan” adalah pola yang jelas-jelas mendapat perlawanan.

Membaca Cara Kerja “Sihir” Defixio Tabella

Di suatu kedalaman, karena penulisnya sengaja menguburnya, nasib defixio terkatung-katung, dan terus tertutup rapat tersimpan, terbenam, dan karena digerus jaman, “defixio” membusuk pelan-pelan. Sampai pada suatu saat terungkap, karena ketidaksengajaan saat penggalian, huruf yang terbaca mengalami reduksi dan tidak lengkap lagi.

Lalu, apa maksud sesungguhnya setelahnya? Jika “defixio” hanya terbaca remang-remang. Pertanyaan dalam kepala mengenai subjek di defixio dan apa makna dan untuk apa sesungguhnya, menjadi remang-remang dan begitu sarat dengan interpretasi personal. Cara pengaburan makna yang paling awal adalah definisi. Definisi yang memainkan cabang dari semua bentuk penafsiran awal teks-teks yang sampai sekarang selalu membuat penafsiran bermakna ganda dan propaganda. Sampai teks awal membuat suatu cabang ilmu yang baru dan asumsi yang sedemikian remang-remang menafsirkan bentuk baru sehingga tetap dan terang demi penyesuaian yang lancar melewati jaman. Lalu, cabang ilmu baru yang sesuai dengan jaman pun dibuat.

“Iblis tidak membuat sihir bekerja namun iblis yang mencuri dengar mengetahui teks rapalan yang membuat sihir mampu bekerja.” Sebuah giringan yang bersifat interpretasi personal, namun sesungguhnya giringan tersebut adalah ilusi yang disimpan iblis untuk menciptakan nanar. Nanar adalah definisi atas akibat. Akibat yang seringnya dikait-kaitkan dengan kecerobohan dan kebodohan. apa yang diciptakan oleh kecerobohan dan kebodohan selalu berbuntut panjang dan dalam banyak cerita, digambarkan cenderung merugikan. Nanar adalah jalan tembus yang membuat lembah jahannam terbakar menyala-nyala. Disitulah iblis menetap dan menyebar bibit kedengkian, sampai batas yang telah ditentukan waktunya.

Tipu daya iblis bekerja saat defixio mempengaruhi kepercayaan sihir dan menciptakan pola hidup yang sekaligus dapat mempengaruhi cara masyarakat dalam memandang sihir. Defixio adalah sihir, dan cara masyarakat yang hidup saat defixio berkembang, memandang wajar, ilmu sihir. Antropolog Stanley J. Tambiah mengungkap tentang tindakan magis (atau sihir), biasanya adalah gabungan dari ucapan verbal dan manipulasi objek. Yang mana hal tersebut merupakan tindakan performatif, dan ini persis dengan apa yang ada di defixio (lembar kutukan). Kinerja ritual yang merupakan gabungan dari elemen verbal dan non verbal, membawa perubahan dalam studi ekstra-linguistik dengan prosedur mekanis yang kurang lebih “otomatis” biasanya dikaitkan dengan sihir.

Daniela Urbanova dan Jurak Franek dalam Philologia Classica vol 14 (2019), menulis bahwa “lembar kutukan merupakan bagian penting dari bukti epigrafis untuk praktik ritual berdasarkan sihir di dunia Mediterania kuno”.  Mereka berdua mencoba untuk memberikan gambaran umum yang representatif dan taksonomi sementara untuk penggunaan rumus perumpamaan di “defixio” Yunani dan Latin, yang dibuktikan dari sekitar 80 defixio dan dalam keadaan keterbacaan yang sangat remang-remang, dengan usia selama kurang lebih satu millennia dimulai dari abad 5 SM sampai abad ke 5 Masehi. Dari temuan defixio di Aquae Sulis di Britania dan Hadrumetum di Afrika, hingga Pontic Olbia di Ukraina dan Oxyrrhynchus di Mesir.

Defixio atau tablet kutukan sesuai “May their Limb Melt, Just as This Lead Shall Melt… (Sympathethic Magic and Similia Similibus Formulae in Greek and Latin Curse Tablets”, telah didefinisikan secara minimal sebagai potongan timah bertuliskan, “biasanya dalam bentuk lembaran kecil tipis, yang dimaksudkan untuk mempengaruhi, dengan cara supernatural, tindakan atau kesejahteraan orang atau hewan di luar kehendak mereka.”

Petaka dari sihir defixiones sebenarnya dimulai kira-kira setelah apa yang dimuat dalam keterangan lembar defixio, berhasil ditemukan (berhasil ditemukan kira-kira bermakna berhasil dipecahkan). Seperti Misteri yang terdapat di defixio “Caesarea Maritima Against a Dancer”, dimana diungkap bahwa Manna yang dikandung Rufina adalah sosok yang sebelumnya teka-teki, namun berhasil diungkap kemudian, dimana keberadaan Manna yang dikandung Rufina adalah tohoh utama yang disebut-sebut sebagai subjek yang terkutuk, dan dinyatakan dengan jelas, tegas, agar supaya tidak, dan jangan sampai terlihat ”berdansa”. Berikut adalah kutipan dan ulasannya :

Pengutuk dalam “Caesarea Maritima Against a Dancer” terlihat meminta (dan memohon) yang ditujukan kepada 3 nama. Sebagai permulaan yang pertama ditujukan kepada Acham, pengutuk meminta kepada Acham yang kasar untuk menghalang-halangi Manna yang dikandung Rufina “berdansa”.

aku memohon kepadamu, Acham yang kasar…sebuah kebiasaan suci…memisahkan…Manna…ikatlah talinya bersama-sama, menghalangi tarian Manna..untuk menekuk kaki (nya).

kemudian dalam baris yang lain diceritakan bahwa pengutuk meminta kali ini kepada iblis untuk tidak mengijinkan Manna yang dikandung Rufina terlihat, dan dalam hal ini menyuruhnya (Manna yang dikandung Rufina) untuk pergi.

…iblis yang menghuni langit, iblis yang menghuni udara, iblis yang menghuni bumi, iblis dunia bawah, iblis yang menghuni laut, sungai, iblis yang menghuni musim semi, iblis yang kasar, …iblis yang berasal dari orang yang mati, terbang (?) iblis…, iblis… dan jangan ijinkan Manna yang dikandung Rufina…(terikat?) kakinya, tangannya, dia harus pergi…dia harus berdansa menjauh,

Pergi tidak terlihat “berdansa” di suatu lokasi yang digambarkan sebagai teater atau tempat lain pada keterangan terusannya yang belum berhasil diterjemahkan.

…dia harus berdansa menjauh, dia harus turun ke bawah entah mengarah ke teater atau…

Lalu pengutuk berganti memohon pada Malaikat untuk meminta Manna yang dikandung Rufina, untuk dilarang terlihat seperti biasanya. Diusir dan jika perlu dengan cara yang keras dan dengan sifat memaksa yang lain, agar Manna yang dikandung Rufina tidak terlihat.

Manna harus diusir…Tuan Malaikat, Aku memintamu… dengan kekuatan paksaan dari Tuhanmu…memuntir, menggelapkan, menutup, menutupkan beriringan dengan mata, pemilik tangan yang…secepatnya…yang (tidak?) menjadi sekutu… dia harus bergerak perlahan dan kehilangan keseimbangan… (dia harus menderita) gatal, lumpuh, buatlah Manna yang dikandung Rufina diam… perhatiannya… dia seharusnya menunduk dan tidak terlihat seperti biasanya…

Keterangan berikutnya, melibatkan apa yang sebenarnya menjadi ciri khas dari gaya penyampaian defixio, yaitu kutukan. Karena jika Manna yang dikandung Rufina terlihat seperti biasanya, dan “berdansa” atau “menari”, maka… hari yang sial akan datang.

… untuk niat… hari yang sial… … di dalam kota … kehilangan (?), dia seharusnya tidak seperti yang terlihat/tak seperti biasanya, dia membawa hari yang sial sebelum semua (orang-orang?, pergi menonton?) … dia… segala… dalam suatu… dia, Manna yang dikandung Rufina, seharusnya tidak terlihat seperti biasanya segera segera, cepat cepat… dari menari, segera segera, cepat cepat.

Lalu siapa yang ketiban sial? saat hari sial itu datang? Pada sisi B, defixio menulis tentang golongan hijau, atau diceritakan bahwa pengutuk sedang menunjuk golongan hijau. Lalu siapakah golongan hijau yang dimaksud? (disebutkan bahwa) “Dia yang terikat penghakiman selama, Manna (tetap atau sedang) dikandung Rufina.”

Seseorang darimu…yang (bergolongan) hijau, yang memiliki kekuatan, tersebut… pemenang dan tepuk tangan… kamu yang harus terikat… penghakiman… selama…Manna dikandung Rufina. Chych Bachych Bachachych Bakaxichych Bachabachych Menebeachych Badetophoth Bainchoook Samosilam Eulamo…Patathnax Imiathar iou Erbeth iou Pakerbeth, io Bolchoseth iph Apomps, io the… Abrasax… untuk mereka … dengan paksa … untuk mereka yang sedang terengah-engah (orang)… atas segala jiwa… bergabung untuk sebuah teriakan … selamat, berfikir hati-hati…dia akan terlihat tidak elok. Phisikere Pai Phtha Phoza, terikat…dewa-dewa…untuk sial…

Disini, entah karena Manna yang dikandung Rufina memang tidak terlihat sebelumnya, atau di suatu telaah yang melibatkan situasi, Manna yang dikandung Rufina dalam posisi akan terlihat ketahuan. Karena itulah sang pengutuk berujar di defixio agar Manna yang dikandung Rufina segera diusir pergi. Untuk mencegah hari yang sial datang, jika Manna yang dikandung Rufina ketahuan terlihat “berdansa”. Karena Manna yang dikandung Rufina dan tariannya, akan membawa sial.

Cerita mengenai lembar kutukan memiliki nilai magis dan sebagai mantra sihir mulai bekerja, kira-kira setelah Manna yang dikandung Rufina terlihat seperti biasanya dan dalam kondisi ditemukan sedang “berdansa”. Sayangnya, dalam runutan cerita yang melibatkan teater sebagai satu-satunya rujukan lokasi yang mengidentifikasikan  apa yang seharusnya dikerjakan, tampaknya Manna yang dikandung Rufina memang benar berprofesi sebagai “Penari”. Dan di sanalah, di teaterlah, ia (Manna yang dikandung Rufina) datang untuk “berdansa”. Cerita yang menampik fakta bahwa Manna yang dikandung Rufina tidak mungkin tidak “berdansa” atau “menari” disini jelas sekali tertulis dalam kronologi cerita lembar kutukan “Caesarea Maritima Against a Dancer”. Dan saat Manna yang dikandung Rufina terlihat dan ternyata benar sedang berdansa, maka...hari sial akan datang.

Blog trajectory “berangan-angan”, jika seandainya Manna yang dikandung Rufina sedang memetik cabai di ladang, tentu ia akan merujuk lokasi yang berbeda dan juga menunjuk jenis pekerjaan yang berbeda pula. Sehingga dalam suatu konsep desain persona, Manna yang dikandung Rufina tidak akan dapat ditemukan di teater, atau disuruh untuk pergi ke teater, karena dia bukanlah “Penari” dan secara otomatis, dia tentu tidak ditemukan dalam keadaan “berdansa” atau “menari”. Tetapi bekerja di ladang memanen cabai, atau sedang menanam cabai. Bisa dikatakan bahwa kutukan tidak akan bekerja atau tidak akan pernah terjadi apabila Manna yang dikandung Rufina adalah seorang Petani Cabai, dan bukan seorang “Penari” yang tidak pernah akan ditemui sedang dalam keadaan “berdansa” atau “menari”.

Cabai adalah komoditi yang tak terbantahkan lebih terekspos sebagai bumbu, dan bukan makanan dari jenis buah yang bisa dimakan sendiri tanpa orang merasa ingin mengumpat karena rasanya yang sangat pedas, dan jika kebanyakan, orang akan mengambil banyak air untuk diminum (mungkin setangki penuh truk pemadam kebakaran). Dan kalaupun air nya habis, bisa ngambil di kali, danau dan payau-payau terdekat. Hadeeeh…sampe cape minum air. (Maaf jika Blog trajectory keterlaluan mengada-ada dalam “berangan-angan”)



Defixiones sebagai Rujukan

Defixiones atau lembar kutukan buruk sebagai rujukan. Sangat buruk mengingat kepercayaan yang memuat nilai magis atas sihir yang mendasari lahirnya pembuatan defixiones. Namun dalam telaah modern yang melibatkan unsur dinamika dari cabang ilmu psikologi, sosiologi, antropologi, dan bahkan fisika, melihat ulang defixiones yang memiliki nilai dan makna keterkaitan tampaknya akan mendukung perkembangan penelitian dari cabang ilmu pengetahuan tersebut. Dan penelitian yang mencoba mengungkap teka-teki defixiones yang melibatkan ilmu pengetahuan, kemungkinan tidak akan bisa dihindari.

Seperti hasil telaah yang melibatkan temuan bentuk kata “terikat” atau “ikatan”, dimana dalam banyak contoh defixio yang berhasil ditemukan, selalu memiliki pola yang seperti itu. Jika kemudian cabang ilmu fisika masuk dan menafsirkan bentuk pola “terikat” atau “ikatan” sebagai kata kerja dari sifat gravitasi, tentu nya akan melihat defixio sebagai hukum yang mengikat dari gugusan bintang dan formasi planet. jika kemudian teka-teki yang terdapat di lembar kutukan atau defixio yang memiliki pola bentuk “terikat” atau “ikatan” berhasil dipecahkan, lantas kepercayaan yang melahirkan ketakutan akan sihir terjadi, dan jika memang kutukan benar-benar terjadi, maka pembaca bisa berasumsi bahwa lembar kutukan memang mengutuk dan hanya menimbulkan malapetaka.

“terikat” atau “ikatan”

Defixio dapat memberi dampak takut kepada orang untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi di alam semesta, jika benar bahwa rujukan atas pola bentuk “terikat” atau “ikatan” dijadikan misalnya oleh cabang ilmu fisika sebagai rujukan. Orang yang berkecimpung dalam penelitian fisika tidak akan mau lagi menggunakan defixio sebagai rujukan jika sihir yang mengutuk benar-benar bekerja membuat malapetaka setelah dunia penelitian fisika mengungkap makna sesungguhnya dari apa yang terkandung di lembar kutukan.

Dunia hari ini lebih toleran dari jaman dulu. Namun kepercayaan terhadap cerita yang disampaikan dari mulut ke mulut, tentang sebab kebenaran kutukan terjadi, tentunya menimbulkan efek psikologis kepada orang atau masyarakat untuk menjadi takut. Kecenderungan yang lebih relevan adalah dengan mengikuti kepercayaan banyak orang, dan jika dalam suatu kelompok bangsa, atau bahkan ajaran agama, kepercayaan tentang kutukan yang mengikuti memang ada, saat misteri apa yang tertulis di defixio terlihat atau terpecahkan, tentu suatu kelompok bangsa tersebut, atau kelompok ajaran agama tersebut, akan melarang siapapun untuk mencoba mengungkap misteri sebenarnya dari apa yang tertulis di defixio.

Mungkin akan lahir ujaran yang mengatasnamakan otoritas tertinggi (di suatu kelompok) yang mengharuskan kelompok bangsa, atau ajaran agama untuk menjauh dari penelitian tentang semesta, atau belajar ilmu fisika dan mendalami materi tentang gravitasi misalnya, jika penafsiran fisika atas gravitasi, memang masuk akal untuk memecahkan misteri defixio. Namun kemudian berbuntut panjang karena kutukan yang terdapat di lembar kutukan benar-benar bekerja, dan umat manusia terkena malapetaka, setelah misteri defixio terpecahkan.

Kelompok tertentu tersebut (yang mengatasnamakan otoritas tertinggi) tentu akan berupaya keras menentang segala bentuk ujaran yang mengatasnamakan ilmu pengetahuan, untuk mengungkap teka-teki defixio. Hal tersebut kemudian memberi dampak "nanar", yang jika diterapkan dengan hukum ketat sebagai pengawas, membuat kelompok bangsa atau penganut ajaran agama,akan cenderung memiliki pola paham "mengurung diri". Akan lebih baik dalam tanda kutip “mengurung diri” daripada menjadi faham dan mengerti teknologi. Daripada membuat kutukan defixio terjadi, “mengurung diri” adalah sesuatu yang bijaksana, dan bahkan lebih baik, daripada mengerti semesta dan ilmu fisika.

Namun pola perkembangan atas kekhawatiran memang pada akhirnya akan selalu ada dan bagi masyarakat, kelompok bangsa, atau agama  yang mengetahuinya, tentu akan dengan ketat menganut, tanpa perlu mempertanyakannya. dan efek bagi yang mempertanyakannya adalah "nanar". jika melihat kembali cerita Huruf Kesepuluh pada bagian pertama, pembaca pasti mengerti arti dari dampak "nanar" yang dimaksud. Adalah perburuan penyihir secara besar-besaran di Eropa Abad Pertengahan dimana upaya suatu otoritas kelompok agama, mencoba membuat kurungan atas rasa penasaran dan kemajuan ilmu pengetahuan, dimana tudingan penyihir selalu dialamatkan bagi mereka yang membangkang. tak sedikit ilmuwan yang menjadi korban perburuan dan eksekusi karena dituding sebagai penyihir.

Lalu, berhargakah defixio, jika ketakutan adalah efek yang menggerus kepuasan atas rasa penasaran? Pada nilai dan tradisi tertentu, pembaca akan disuguhi jawaban yang sebaliknya. Kelompok yang percaya dengan ilmu pengetahuan akan tampil mengusung tema pencerahan dan menganggap bahwa defixio hanyalah fantasi. Defixio tidak diyakini berdampak dan sebagaimana yang terlihat bahwa kutukan yang tertulis, hanyalah buaian orang yang sedang menggerutu dan itu biasa terjadi dalam kehidupan sosial bermasyarakat, dimana saja, dan dimasa kapan saja.

Penentangan dari kelompok keras yang mengusung tema pembaharuan kemudian akan menjadi saingan terberat, atas kelompok yang disebut "Lama" yang mempercayai bahwa kutukan defixio adalah benar dan bukan hal yang mengada-ada. Untuk kelompok pembaharu, tampilan defixio menjadi tampak usang. Atas nama penelitian dan ilmu pengetahuan yang mendasari kepuasan atas rasa penasaran, kutukan adalah hal yang usang. Dan penganutnya atau kelompok yang mempercayainya, lantas disebut "Kelompok Lama".

Bagaimana dengan pembaca, Apakah pembaca terpikat dengan defixio (lembar kutukan) dan kemudian mencernanya? Lantas apa yang pembaca dapat? Rasa penasaran dan haus akan ilmu pengetahuan, seperti kelompok pembaharu, atau sebaliknya menjadi takut, seperti "kelompok lama" yang khawatir bahwa kutukan akan terjadi, saat teka-teki di lembar kutukan terbaca?

***

Dari Athena Yunani, harian “Haarets” melaporkan bahwa 30 lembar kutukan timbal telah ditemukan di sumur berusia 2.500 tahun di pusat kota Athena oleh tim arkeolog dari Institut Arkeologi Jerman, yang sedang menyelidiki pasokan air untuk pemandian terdekat, yang dibangun pada abad 1 SM. Lalu, pada 1979-1980, 130 lembar kutukan Bath juga telah ditemukan di lokasi Aquae Sulis (sekarang Bath di Inggris). Lebih dari 80 lembar kutukan serupa juga ditemukan di dan sekitar sisa-sisa kuil Merkurius, di dekatnya di West Hill, Uley, menjadikan Inggris bagian barat daya sebagai salah satu pusat utama penemuan defixiones.

Sampai dengan saat ini, lebih dari 1600 defixio Yunani dan Latin telah diterbitkan, dengan temuan baru dan teks yang berhasil diketahui tapi sebelumnya tidak diterbitkan, meningkat jumlahnya  setiap tahun. Kira-kira sepertiga ditulis dalam bahasa Latin dan dua per tiga nya ditulis dalam bahasa Yunani, namun kadang-kadang ditemukan teks defixio dalam bahasa campuran keduanya.

Bersambung…

Selasa, 03 Agustus 2021

Huruf Kesepuluh (Bagian : 1)


Huruf dalam penafsiran dunia yang kita tinggali merupakan akses masuk pada pemahaman berkomunikasi. Huruf merupakan pengetahuan tunggal atas gaya penyampaian yang dipandang memiliki nilai dan aturan berdasarkan tata cara berkomunikasi itu sendiri. Cara mengeja pertama kali didasari karena huruf itu ada dan diajarkan secara turun-temurun. Keseragaman dalam pengucapan, menyebabkan huruf  untuk menciptakan cara yang sama dalam penyampaian metode berkomunikasi.

Keseragaman, adalah apa yang coba huruf sampaikan sampai batas dimana huruf yang lain memberi batas atas pola keseragaman. Dengan maksud meluaskan pandangan, huruf berperan membentuk sebuah bangsa. Dengan “lidah” yang sama, dengan cara huruf membangun pola komunikasi, huruf adalah alat mengirimkan kabar yang paling ampuh, yang paling awal muncul, untuk membuat sebuah rangkaian “cara paham” agar dapat bekerja secara maksimal.

Tulisan yang terbaca, melukiskan pandangan atas apa yang terjadi, dan kemudian pandangan menjadi cara pandang, dan cara pandang mengurai bentuk, dan disepakati secara bersama-sama, dan itu berarti cara pandang resmi berubah menjadi paham atau pemahaman. Dinamika atas cara huruf bekerja, didasari dan dikontrol sepenuhnya oleh ruang lingkup yang bersifat saling mempengaruhi. Jika pengaruh meluas, ajaran mengenai huruf dan tulisan meluas, dan sampai batas ia mampu diterima, huruf telah mempengaruhi cara hidup manusia untuk hidup berkelompok. Menceritakan kisah yang sama, sajak termasyur mendikte ketergantungan atas cara hidup yang mampu diikuti, dan diterima sebagai kesepakatan untuk menjadi satu sistem kelompok.

Batas atas keabsahan kelompok adalah huruf dengan pengucapan yang sama. Jika kemudian pada batas wilayah tertentu, huruf menemui kendala untuk menjadi induk dalam berucap dan berkomunikasi, huruf yang berperan sebagai penanda wilayah, disitu, peran huruf menemui akhir. Ia tak lagi menjadi bagian dari kelompok dan dinamika atas cara kelompok manusia berkomunikasi dan mengirim informasi. Ia adalah bagian terpisah, dan huruf yang lain menggantikannya, untuk membentuk suatu kelompok lain dengan cara berkomunikasi yang sama sekali lain.

Huruf pada dinamika perkembangannya, dipandang sebagai alat legitimasi. Namun, legitimasi itu sendiri adalah bagian dari cara berkomunikasi.

Al-hijr ayat 29: “Maka apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan-Ku), maka tunduklah kamu kepadanya (Adam) dengan bersujud.”

Al-hijr ayat 30: ”Maka bersujudlah para malaikat itu semua bersama-sama.”

Al-hijr ayat 31: “Kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu.

Huruf merupakan tanda atas kemunculan suatu identitas. Dengan mengatasnamakan kesepakatan, huruf dapat mewakili kepentingan dan membentuk identitas itu sendiri. Namun di sisi lain, dapat memicu konflik atas ketidaksepahaman dan seringkali legitimasi huruf, adalah satu-satunya simbol resmi atas perintah suci untuk menolak segala bentuk pernyataan yang dapat mengganggu legitimasi itu sendiri. Kebajikan adalah kesucian dan huruf yang ditawarkan bernada kebaikan. Orang suci terpandang adalah penyampai huruf dan dianut, dipercaya sebagai perawi tunggal atas titah luhur pemegang legitimasi. Dan sebaliknya, ide tentang tatanan legitimasi yang tidak disepakati dan menentang orang suci terpandang akan melahirkan hujatan bernada miring. Ejekan, cemoohan, dan bahkan pengusiran  adalah sanksi atas pelanggaran legitimasi. Mereka yang melanggar disebut sebagai bejat, penjahat pemberontak, anak setan, iblis, dan bahkan penyihir.

Al-hijr ayat 31: “Kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu.

Mitos mengenai penyihir mulai bermunculan pada sekitar abad ke 10, dimana huruf pada waktu itu mewakili citra atas apa yang melekat karena itu diucapkan ibarat mantra rapalan, dan kemudian keajaiban kira-kira terjadi. Penafsiran atas apa yang dipandang belum ada, kemudian membuat takjub dengan membuat keanehan, dan karena wujudnya belum dimengerti, praktek yang dilakukan penyihir lebih bersifat mendekati cara-cara iblis ketimbang dimengerti sebagai cara-cara ilmiah. Praktek tersebut mulai dianggap illegal mulai abad 14, saat eropa memasuki abad kegelapan pada waktu itu, dan mulailah periode memburu, menangkap dan mengeksekusi penyihir karena dianggap sebagai sumber malapetaka. Kejadian tersebut tercatat dalam jurnal sosiologi yang ditulis pada 1980 dan pernah diterbitkan dalam laman JSTOR yang berjudul, “The European Witch Craze of the 14th and 17th Centuries.”

Jenis mantra yang melibatkan huruf yang tidak dikenal dan termasuk cara pengucapannya dipandang menjerumuskan dan cerita tentang kegelapan yang dibawa penyihir menimbulkan prasangka yang pada akhirnya menyudutkan orang-orang yang dianggap membawa mantra tersebut. Dengan dinamika yang menyimpang dari nilai wibawa yang berkembang, penyihir adalah satu-satunya anggapan terhadap penyelewengan atas apa yang orang ucapkan dan rapalkan.

Mitos mengenai huruf kesepuluh muncul pada abad ke 15 tepatnya di Moravia Utara, Republik Cekoslowakia yang dimuat di laman “My Czech Republic” dimana huruf tersebut memiliki wujud yang sampai sekarang dirahasiakan keberadaannya, dan yang mengetahuinya pun adalah orang-orang yang dianggap sebagai bagian dari kelompok sekte Aivaro. Sekte tersebut mengajarkan pola dan cara-cara iblis untuk kemudian mengikuti kitab yang dianut untuk bisa menjadi iblis atau paling tidak mendekati iblis. Dan dengan menjadi iblis, akan didapat kemampuan istimewa yang tidak mungkin dimiliki oleh orang-orang awam. Kemampuan iblis yang dimaksud salah satunya adalah kemampuan terbang tinggi. Karena itulah dalam naskah-naskah kuno sering digambarkan bahwa citra penyihir, adalah berpakaian hitam dengan membawa sapu yang dianggap sebagai alat terbang. Dan karena menunggangi sapu, penyihir dapat terbang tinggi.

Mengapa penyihir mengendarai sapu?

Sejarah penyihir yang mengendarai sapu terbang sebenarnya adalah stereotip yang melekat bersamaan dengan zaman. Tidak jelas kapan sapu pertama kali digunakan tapi cara mengikat bebarapa batang ranting panjang menjadi tongkat, kemudian ditambah dengan alang-alang, dan serat alami lainnya untuk menyapu debu atau api dari perapian betul-betul temuan yang sangat berguna, seperti yang ditulis oleh Brian J. Lowder.  Sapu berasal dari tanaman besom, atau semak yang asal tanaman juga digunakan untuk menamai sapu itu sendiri, yaitu besom.

Sejak awal, sapu atau besom dikaitkan terutama dengan wanita dan tugas rumah tangga yang biasa sehari-hari dikerjakan. Meskipun sapu dan kegiatan rumah tangga erat kaitannya dengan wanita, bukan berarti bahwa penyihir yang mengendarai besom adalah seorang wanita. Justru penyihir pertama yang mengaku mengendarai sapu atau besom adalah seorang pria. Adalah Guillaume Edelin, seorang pendeta dari Saint Germain En Laye Prancis. Dia ditangkap pada tahun 1453 dan diadili karena praktek sihir setelah secara terbuka mengkritik aktivitas peringatan gereja. Dia mengaku bertobat tapi kesalahannya membuatnya dipenjara seumur hidup.

Pada saat pengakuan Edelin, gagasan mengenai penyihir terbang menggunakan sapu atau besom sudah dianggap mapan. 2 tahun sebelumnya, pada tahun 1451 publik diperkenalkan dengan gambaran mengenai  penyihir yang mengendarai sapu. Itu adalah gambaran yang paling awal yang ditemukan terkait cara terbang penyihir. Adalah penyair Prancis, Martin Le Franc yang membuat ilustrasi tentang Le Champion Des Dames (dibaca : pembela wanita). Dalam 2 gambar, seorang wanita terbang melayang di udara dengan menggunakan sapu, yang lain terbang dengan menggunakan tongkat putih polos. Keduanya mengenakan jilbab yang mengidentifikasikan diri sebagai Waldensia. Anggota sekte Kristen yang didirikan pada abad 12 yang dicap sesat oleh gereja katolik. Ajarannya yang dianggap melanggar adalah karena mereka mengizinkan wanita menjadi imam.

Antropolog Robin Skelton mengidentifikasi hubungan antara penyihir dan sapu berakar dari ritual petani yang mempersembahkan tarian dalam upacara kesuburan. upacara tersebut adalah upacara Pagan, dimana para petani pedesaan yang tidak puas akan hasil panennya mengangkat tiang, garpu dan sapu dalam cahaya bulan purnama yang dipercaya dapat mempengaruhi kesuburan tanah dan hasil panen mereka. “Tarian sapu” dalam ritual pagan mungkin disalah artikan sebagai bayangan penyihir mengendarai sapu dimana api dan cahaya bulan menciptakan ilusi tentang bayangan keramaian pada malam mencekam. Pagan kemudian dihubungkan dengan upacara sabbat dimana itu adalah saat-saat dimana para penyihir berkumpul.

Profesor Michael Harner menemukan fakta menarik terkait penggunaan salep halusinogen untuk dapat membuat sapu atau bosom dapat terbang. Sebelum menghadiri pertemuan sabbat, penyihir akan mengurapi diri dengan mengoleskan salep pada bagian dahi dan bagian tubuh lain yang ditumbuhi bulu. Sekaligus melumurkannya ke sapu lalu menaikinya. Menurut pengakuan tukang sihir yang diungkap Harner, mereka meminyaki tubuh pada bagian bawah badan seperti ketiak lalu mengucapkan kata-kata mantra tertentu. Seketika ia (penyihir) tak sadarkan diri dan akan merasakan halusinasi bercumbu dengan setan, dan bersekutu dengan iblis. Salep tersebut memiliki efek tak sadarkan diri atau kerasukan pada penggunanya setelah diiringi dengan ritual upacara. Dari situ para penyihir mengaku telah terbang dengan menggunakan sapu.

Penyihir terbang

Adres Laguna, seorang dokter abad 16 mengungkapkan, bahwa balsam tukang sihir itu terdiri dari rempah-rempah yang dingin, dan menyebabkan kantuk. Diracik dari tanaman cemara, hemlock, terung-terungan, hembvane, dan mandrake.

Ahli farmakologi David Kroll, menulis di “Forbes” bahwa dugaan penyihir di abad pertengahan dianggap meramu minuman meraka dari tanaman seperti Atropa Belladona (nightshade beracun), Hyoscyamus Niger (Hembvane), Mandragora Officinarum (Mandrake), dan Datura Stramonium (Jimsonweed). Jika dicampur, bahan-bahan tersebut akan menghasilkan bahan kimia halusinogen yang dikenal sebagai Alkaloid Tropane (Alcohol 70%). Menurut beberapa catatan sejarah, zat tersebut dapat mempengaruhi pikiran. Dan jika menelannya dalam jumlah yang berlebihan, akan menyebabkan gangguan usus. Akan tetapi, daripada memilih menelannya, para penyihir mengoleskannya pada bagian tubuh tertentu agar kulit dapat menyerapnya. Untuk menciptakan efek yang diinginkan yaitu berhalusinasi dan bersekutu dengan iblis.

Dalam bukunya pembunuhan, sihir dan pengobatan, John Mann mengutip teks abad ke 15 dari Teolog Joseph de Bergamo, “bahwa orang vulgar percaya dan para penyihir mengaku, bahwa pada hari dan malam tertentu mereka akan mengurapi tongkat dan menungganginya ke tempat tertentu.”

Apakah Penyihir itu Ada?

Adalah sesuatu yang sama sekali mengada-ada jika penyihir atau mitos tentang penyihir hanyalah bualan pendongeng yang bercerita pada anak-anak sebelum tidur. Jika dalam banyak tulisan diungkap bahwa aktivitas tukang sihir menimbulkan keresahan dan kekhawatiran, bahwa masyarakat yang tidak menemukan akal jawaban atas peristiwa buruk yang menimpanya, memilih untuk menyalahkan orang atau kelompok masyarakat atau bahkan peristiwa melalui teori klenik. Termasuk disini adalah cara Eropa Abad Pertengahan bereaksi terhadap isu mengenai aktivitas penyihir yang meresahkan. Mereka melakukan perburuan dan pembantaian terhadap penyihir, sehingga menyebabkan mereka terjebak dalam masa kegelapan yang begitu lama. Kebodohan dan kekhawatiran berlebihan di era kegelapan bahkan menyebabkan ilmuwan menjadi penyihir. Pembantaian mereka lantas menjadi huru-hara dan membabi-buta. Bukti kecemasan atas penyihir mengidentifikasi fakta bahwa legenda tentang penyihir betulan hidup.

Pada abad ke 16, Raja James I dari Inggris menyerukan permusuhan dengan apapun yang berbau dan memiliki kaitan dengan dunia sihir. Setelah ia menduduki kursi kerajaan, sang raja merilis sebuah buku laris berjudul “Daemonologie” yang membahas tentang sihir jahat. Obsesi dan ketidaksukaan sang raja pada dunia sihir membuatnya membujuk parlemen untuk membuat “Witchcraft Statute”. Sesuai dengan ketentuan statuta, orang atau kelompok yang secara sengaja terlibat dengan segala hal yang berbau sihir dapat dihukum mati.

"Daemonologie"

Laman sains Smithsonian Magazine mencatat bahwa pada rentang tahun 1600 an terjadi perburuan dan eksekusi secara massif pada penyihir yang ditangkap di Skotlandia. Dan bahwa antara abad 16 sampai abad 17, sedikitnya 3.000 orang telah dituduh melakukan praktik sihir dan ditangkap. Dan bukan hanya penyihir, seorang tabib bernama Janet Boyman pada tahun 1572, dianggap melakukan praktik sihir karena mampu menyembuhkan pasien dengan pengobatan rahasianya, dimana penyakit yang diderita pasien pada jaman itu dianggap tidak dapat disembuhkan dan selalu berujung pada kematian.

Sejak awal abad ke 14, Prancis sudah banyak melakukan praktik eksekusi terhadap penyihir seperti diulas dalam laman Encyclopedia. Pada abad kegelapan tersebut, Prancis memiliki tatanan yang cenderung puritan dan fanatik pada dogma-dogma keagamaan. Sejak era tahun 1300 an, kisah-kisah perburuan dan eksekusi penyihir di Prancis secara umum tercatat dengan baik dan masih bisa ditelusuri hingga kini. Alasan klasik yang mendasari hukuman mati para penyihir adalah kebencian, kefanatikan terhadap ideologi, ketidakpahaman akan sains, hingga rumor yang penuh dengan mitos. Semua menjadi dasar hukum untuk membunuh dukun dan penyihir.

Dalam Jurnal “A Sociologist’s Perspective” mengungkap bahwa sejak awal abad ke 14 hingga sampai tahun 1650 an, sudah ada sekitar 200 ribu sampai 500 ribu orang yang dieksekusi di eropa karena dianggap sebagai penyihir. Sekitar 85 persen dari total korban yang dieksekusi adalah wanita.

Pada era tersebut, Eropa memang tengah berada pada zaman kegelapan dan kemiskinan. Periode yang cukup menyiksa tersebut berpengaruh kuat pada psikologis banyak orang yang membutuhkan pelampiasan kemarahan. Tidak ada banyak orang yang memahami sesuatu berdasarkan sains dan logika, keterbatasan pemahaman inilah yang juga dikaitkan sebagai penyebab utama mengapa orang-orang Eropa dijaman tersebut tampak brutal dan barbar terhadap mereka yang dianggap tukang sihir.

Jejak Penyihir yang Dirayakan

Bukti lama tentang keberadaan penyihir diberitakan secara menyakitkan dan stereotip tentang penyihir tampaknya selalu menyudutkan. Namun kebalikan dengan Abad pertengahan, apa yang orang atau masyarakat coba peringati hari ini tidak mencoba untuk menghapus apalagi menyudutkan. Tetapi membuat cerita kuno tentang penyihir seolah-olah memang hidup dan keberadaannya diakui.

Contohnya adalah setiap tanggal 31 Oktober, orang-orang barat merayakan Halloween yang diidentikkan dengan setan, penyihir, dan sifat mengikuti lainnya yang notabene biasa dilakukan oleh sekelompok dukun, gipsy, tukang sihir dan lain-lain. Sampai sekarang saat Halloween datang, orang-orang yang merayakannya berdandan menyeramkan dengan riasan dan kostum penyihir atau setan. Tradisi yang mengikuti dan umum dilakukan saat perayaan Halloween seperti dikutip Mentalfloss, tiga diantaranya adalah : meramal masa depan, memamerkan kucing hitam, dan melihat hantu.

Meramal masa depan adalah jenis permainan yang berasal dari peradaban romawi kuno, dimana pada saat-saat panen, diadakan festival Pamona yang melibatkan kepercayaan klenik yaitu meramal. Festival pamona adalah wujud penghormatan atas Pamona, dewi pertanian and kelimpahan. Pada festival tersebut, berdasarkan permainan pasangan muda-mudi bertanya pada seorang peramal atau gypsi ahli untuk membuat ramalan atas masa depan hubungan mereka.

Memamerkan kucing hitam adalah salah satu tradisi hallowen yang berakar dari kepercayaan kuno. Hubungan antara kucing hitam dan kengerian sebenarnya berasal dari Abad Pertengahan, ketika hewan tersebut dikatakan sebagai simbol penjelmaan iblis dan peliharaan penyihir. Kucing hitam dipercaya sebagai bentuk jadi-jadian atas roh penasaran yang mencoba menggoda dan mengganggu manusia. Sampai saat ini, orang-orang masih percaya bahwa kucing hitam selalu berkaitan dengan hal-hal yang gaib.

Melihat Hantu saat hallowen berakar dari kebudayaan bangsa Celtic yang menggelar Festival Samhain. Selama festival yang menandai transisi ke tahun baru pada akhir panen dan awal musim dingin, ada kepercayaan bahwa arwah keluarga yang meninggal akan berjalan-jalan di muka bumi. Kemudian pada setiap 2 November mereka melakukan “All Souls Day” yang dibimbing oleh Shamant (dukun) atau orang yang mempunyai kesaktian, untuk melakukan upacara pemanggilan roh untuk dimasukkan ke tubuh keluarga yang masih hidup (sukarelawan). Upacara tersebut di Indonesia mirip dengan kesurupan atau membuat orang surupan.

Selain Halloween, ada juga perayaan “Witches Night” di Republik Ceko. Perayaan tradisional yang sangat populer ini diadakan setiap 30 April dan memiliki kemiripan dengan Walpurgis Night di Negara-negara Skandinavia dan Eropa utara. Acara Witches Night ditandai dengan penyalaan api unggun oleh penduduk negeri. Pada malam tersebut orang ceko akan berkumpul, bermain game, minum bir, memanggang burty sosis, dan sebelum api unggun dinyalakan, mereka terlebih dulu membuat tiang dan patung penyihir, sebelum akhirnya nyala api dihidupkan dan membakar tiang beserta boneka penyihir. Perayaan yang paling besar diadakan di taman Ladronka, alun-alun kota Praha. Mengutip laman “Ancient Origins,” perayaan witches night berasal dari jaman kuno dimana diyakini pada tanggal 30 April, para penyihir berkumpul dan membuat semacam ritual di puncak gunung.

Boneka penyihir yang dibakar (Perayaan Witches Night)

Pada perayaan tersebut, patung boneka yang diberi pakaian tua lengkap dengan sapu diletakkan ditengah tumpukan kayu, dan orang-orang berkumpul untuk menyaksikan patung tersebut dibakar. Mereka yakin bahwa perayaan tersebut akan mengusir roh-roh jahat dan mendatangkan keberuntungan untuk tahun-tahun berikutnya. Ketika sebuah patung muncul dalam semburan api, orang-orang yang menonton disekelilingnya bersorak dan ketika itu juga menandakan bahwa seorang penyihir baru saja “naik dalam asap,” seperti dikutip Atlas Obscura.

Witches Night sekarang lebih tentang bersenang-senang, minum bir dan makan-makanan enak ketimbang kembali menilik asal perayaan dibuat, yaitu ketakutan akan roh jahat dan ilmu hitam.

Mereka yang dikatakan Penyihir terbang

Kemampuan terbang betul-betul mengada-ada karena manusia terikat dengan gravitasi. dan selama gravitasi mempengaruhi cara gerak, manusia tidak akan mungkin memiliki kemampuan untuk terbang. Gravitasi berperan dalam menciptakan teori bahwa kesinambungan cara hidup adalah menyentuh landasan tanah, dan bukan menganggap bahwa tanah adalah tumpuan tolak lompatan untuk melayang tak tentu arah diatas langit atau semesta. Namun, banyak berbagai aliran kepercayaan sejak jaman kuno mencoba membuktikan bahwa landasan untuk diikuti dan dipuja banyak orang adalah dengan menjadi berbeda. Dan berbeda terletak pada model ketahanan fisik, awet muda, bisa menghilang, dan bahkan terbang. Cara yang tidak lazim pun dikembangkan seperti tidak makan ber-bulan-bulan, memaksa tubuh sampai dengan cara yang menyakitkan hanya agar dapat menjadi kebal, elastis, dan bahkan yang lebih ekstrim adalah melompat dari tebing, hanya untuk mendapatkan ilmu terbang seperti burung.

Konfusianisme mengajarkan bahwa dengan melebihi manusia, mereka akan dapat memerintah manusia. Untuk menciptakan gambaran ideal mengenai jalan perdamaian, mereka harus mencapai puncak manusia untuk dapat menghentikan peperangan. Lalu, para penganutnya menepi di puncak gunung untuk berlatih ilmu kekebalan, menghilang, bergerak melebihi kecepatan dan bahkan terbang. Bersatu dengan roh adalah perwujudan tentang jalan menggapai puncak menuju Ilahi. Dan dengan menyelidiki dan mempraktekkan ilmu tersebut yang tidak dimiliki manusia normal, dan dengan membuktikan kebenarannya, maka cara-cara Ilahi akan dapat diajarkan. Ajaran konfusianisme kuno menganggap bahwa dengan memiliki kesaktian, seseorang akan menggapai puncak. Dimana ia akan dapat memerintah manusia dengan kesaktiannya, dan menyerukan orang untuk keluar dari jalan perang, dan menuju jalan perdamaian.

Yang menarik adalah para penganut konfusianisme menepi di puncak gunung untuk mempelajari kesaktian yang tidak dimiliki manusia normal. Sama halnya dengan mitos penyihir Eropa yang berkumpul digunung untuk memperingati pertemuan sabbat. Mereka pergi ke gunung untuk mencapai maksud yang berbeda, namun cerita mengenai penyihir dan kesaktian yang dipelajari oleh penganut konfusianisme selalu melibatkan gunung sebagai tempat pijakan untuk memulai cerita mistis mengenai terbang dan berbagai hal lain yang berhubungan dengan mempelajari kesaktian.

Namun konfusianisme dan cerita penyihir Eropa adalah gambaran dua dunia terpisah dengan adat, bahasa dan orang-orangnya dibentuk melalui prinsip cerita yang berbeda. Jika kemudian 2 dunia tersebut bertemu melalui jalur perdagangan, pengaruh, asimilasi dan cerita tersebut menyebar, kemudian mengalami penyetiran yang luar biasa “disesuaikan dengan kearifan lokal”, mungkin 2 cerita tersebut pada dasarnya adalah 1 cerita. Namun dugaan tidak akan mengurai fakta, dan hal tersebut masih bersifat asumsi.

Dunia islam tidak menolak anggapan sakti dan orang yang memiliki kemampuan tersebut dinamakan “Aulia.” Para Aulia diceritakan memiliki kemampuan yang tidak dimiliki manusia normal dan digambarkan sebagai perapal terampuh dengan doa yang sama sekali tidak diketahui kebanyakan orang. Wali songo adalah salah satu cerita para aulia yang paling terkenal dan sampai sekarang dihormati sebagai penyebar ajaran agama islam di jawa. Mereka mendapat gelar sunan dan dikenal sebagai “Saint of Sangha.”

Cerita kesaktian para “saint of sangha” yang menyebar diantaranya adalah mampu mengubah batu menjadi emas yang dilakukan oleh Sunan Bonang, mampu membuat tebing berbatu memancarkan air yang dilakukan oleh Sunan Gunung Jati, dan lain-lain.

Wali songo adalah representasi ideal versi konfusianisme yang mencoba memerintah manusia dan membuat mereka tunduk melalui kesaktian. Termasuk konfusianisme sendiri yang percaya bahwa harapan atas peperangan yang tiada akhir adalah kesaktian yang melebihi kemampuan manusia yang mampu meredam perang dan membuat perdamaian. Cerita wali songo yang berhasil menyebarkan agama islam di pulau Jawa dimana sebelumnya ajaran agama hindu begitu dominan, yang memerintah dan mempengaruhi pemerintahan dengan berdasarkan prinsip islam, adalah cermin bagaimana konfusianisme mencoba mengkonstruksi gagasan. Wali songo adalah praktik atas gagasan, sedang konfusianisme adalah teori dan gagasan.

Konfusianisme ditempat asalnya Tiongkok adalah ajaran yang menyebar luas dan sebagai gagasan, dianut dan dipraktekkan. Dan meskipun gagasan konfusianisme kemudian dianggap menuai hasil di pulau jawa, apakah itu berarti bahwa wali songo yang sukses menyebarkan ajaran agama islam dipulau jawa menganut ajaran konfusianisme?

Titik tumpuan awal dari konstruksi cerita wali songo, penganut konfusianisme, dan penghargaan terhadap kesaktian manusia, termasuk cerita penyihir di eropa berangkat dari kesaksian, dan dimana asal cerita mendominasi kebajikan yang berbeda. Ajaran yang paling dianggap bijaksana adalah kebenaran mutlak dan kebenaran mutlak yang coba dikonstruksi berakar dari sebab-musabab yang berbeda. Cerita orang sakti lebih menuai penghargaan di dunia dimana ajaran konfusianisme dibangun, dan di tempat wali songo menyebarkan ajaran agama islam, ketimbang kronologi peristiwa negatif, yang menuai konstruksi cerita negatif mengenai orang sakti yang berkembang di Eropa.

Para aulia, penyihir, dan penganut ajaran konfusianisme berangkat dari dunia yang berbeda dan jejak rekam yang menyebabkan hasil penilaian yang berbeda. Meskipun cara kerja seperti “sifat rapalan yang dikenalkan dari cerita mulut ke mulut” dan prakteknya memiliki kemiripan, mereka dianggap sakti tapi memiliki nilai keagungan yang berbeda. Karena ya itu tadi, berangkat dari titik tumpuan yang berbeda.

Namun cerita para orang sakti dengan kemampuan beragam memiliki persamaan dalam dunia yang dirundung malang. Kecenderungan bahwa perjuangan dan perang adalah simbol yang melekat dimana mereka mencoba membangun dan membuat suatu bentuk pemerintahan yang terlepas dari penindasan, kemiskinan dan kekeringan. Dimana hal tersebut memaksa pemerintahan yang memegang kekuasaan menindas, dan rakyat yang hilang akal kemudian mencari penenang atas keserakahan penguasa dengan bergabung dengan kelompok penentang yang memuja dan percaya orang sakti, yang membuat rakyat percaya bahwa orang sakti tersebut mampu menyingkirkan malapetaka dan pemimpin mereka.

Indonesia pernah memiliki cara pandang konfusianisme seperti yang diceritakan diatas. Pembaca tentu masih ingat dengan kerusuhan 1998, dimana demonstrasi besar-besaran terjadi dimana-mana untuk menyingkirkan Suharto dari kursi kekuasan permanen. Adalah “ratu adil” yang dipercaya mampu meredam gejolak tak menentu atas kerusuhan suatu negeri yaitu Indonesia. Ratu adil adalah sosok yang dipercaya mampu memimpin bangsa Indonesia kala itu keluar dari krisis dan dicari oleh siapapun di setiap pelosok penjuru negeri.

Eropa dan Tiongkok memiliki sejarah cerita yang sejenis dimana ketidakpuasan menguasai negeri dan berujung pada kekecewaan. Pemerintah yang berkuasa ada yang mampu bertahan dan ada yang tidak mampu dan digantikan oleh penguasa sakti yang dianggap harapan masyarakat. Sehingga setiran mengenai kemampuan istimewa atas orang, pemimpin kelompok atau kelompok itu sendiri menjadi berbeda. Ada yang positif dan digambarkan begitu agung, dan ada yang dicemooh dan dipandang sebagai patologi, tergantung dari kesuksesan masing-masing siapa orang atau kelompok yang memegang kekuasaan.

Huruf adalah legitimasi dan tulisan yang berdasarkan huruf, membentuk watak dan kewibawaan dari masing-masing dongeng cerita orang sakti di masing-masing wilayah.

Stigma atas kemampuan orang sakti adalah melebihi kemampuan orang awam, dan terbang adalah salah satunya. Namun cara pandang jaman sekarang cenderung tidak menggubris karena asal cerita tentang manusia terbang, tidak menjangkau mata pada saat ini.

Teori Gravitasi

Sejak lahirnya teori gravitasi, dan diajarkan bahwa dataran adalah tempat yang paling relevan yang bisa dipijak, konsep tentang terbang tinggi adalah sesuatu yang sama sekali tidak bijaksana. Mengakomodir fakta tentang apa yang kebanyakan orang pahami, berjalan dimuka bumi dan membiarkan kaki menginjak tanah adalah kenyataan yang sama sekali tidak dibantah. Lumrah dan akal mengatakan bahwa itulah yang sesuai kemampuan.

Adalah Isaac Newton, ilmuwan Inggris yang menemukan hukum gravitasi pada tahun 1665. Menurutnya, semua benda di bumi akan jatuh ke bawah karena adanya gaya gravitasi. Ide tersebut mengumpamakan bahwa setiap benda yang dilempar ke udara, akan jatuh kembali ke tanah. Ketinggian yang membuat suatu benda menjadi terbang, hanyalah daya tolak lompatan yang bekerja sementara. Karena pada dasarnya, setiap benda yang berada di bumi, terikat oleh gaya gravitasi.

Yang menarik adalah Newton sebenarnya sedang menepi di rumahnya di Woolsthorpe Manor pada saat menemukan gagasan mengenai hukum gravitasi, karena di London tempat ia belajar di Universitas Cambridge sedang dilanda wabah “Black Death” atau wabah besar London. Yang menyebabkan korban meninggal hingga ribuan orang. Penyebab wabah besar London adalah Yersinia Pestis, atau bakteri kutu yang dibawa oleh tikus.

Berawal dari ketidaksengajaan karena duduk dibawah pohon apel, tiba-tiba sebuah apel jatuh di atas kepalanya. Ia - Newton -  mulai berfikir “Mengapa apel itu jatuh ke bawah setelah meninggalkan pohonnya? Mengapa ia - apel - tidak naik ke atas? Dari sana, Newton mencetuskan gagasan mengenai hukum gravitasi. Hingga tahun 1684, Newton berhasil membuktikan dan mempertahankan teorinya tanpa keraguan melalui tiga prinsip dasar hukum pergerakan.

Isaac Newton yang merenung,
"Mengapa buah apel jatuh ke bawah"

Gagasan mengenai gravitasi sebenarnya sudah pernah diungkap oleh pendahulunya Nicholas Coppernicus, yang menemukan teori tentang tata surya. Teorinya mengatakan bahwa matahari adalah pusat tata surya. Namun temuan Isaac Newton mengenai hukum gravitasi lebih diterima dan dihargai pada saat itu ketimbang Nicholas Coppernicus. Karena apa yang diungkap oleh Coppernicus, dianggap melakukan kritik terhadap gereja dan melanggar dogma agama. Apa yang ditemukan Isaac Newton menyebabkan dirinya mendapat gelar kehormatan "Sir" dari Ratu Anne pada tahun 1705, sedangkan Nicholas Coppernicus tidak begitu beruntung sebab gagasan dan temuannya menyebabkan dirinya dibunuh.

Temuan teori gravitasi Isaac Newton terjadi menjelang akhir abad 16 (Renaissance), atau abad peralihan dari zaman pertengahan ke zaman modern, yang dimulai pada abad 17. Pada saat itu, hukum gravitasi sekaligus juga mengeliminasi asumsi tentang keberadaan penyihir terbang.

Apakah Penyihir terbang betulan?

Fakta mengenai manusia terbang adalah kenyataan, akan terus dibantah kebenarannya, karena dianggap melalaikan dinamika ilmu pengetahuan. Namun, di dalam dalil dunia dimana kemampuan orang dapat terbang dianggap mapan, kisah tentang orang terbang ternyata berkaitan dengan posisi kelompok atau penganut suatu ajaran yang justru diterima dan dicerna sebagai suatu bentuk idealisme yang wajar oleh masyarakat yang memandangnya. Terbang adalah sesuatu yang wajar, dan orang yang dapat melakukannya berada pada suatu bentuk penyebutan posisi yang tidak diributkan. bahkan dapat terbang, adalah tinggi nilainya dan merupakan sesuatu yang dipuja dan diagungkan.

Saint Appollonius dari Tyana pernah pergi ke India. Di sana dia melaporkan pernah melihat para Brahmins (pendeta hindu) “mengambang hampir satu meter di atas tanah.” Sebagian besar para ahli sejarah yang menyelidikinya mengatakan bahwa cerita Saint Appollonius adalah murni sebuah fantasi. Tetapi Ernest Wood, seorang penulis Inggris yang khusus menyelidiki filosofi ketimuran, melaporkan hal yang sama saat ia pergi ke India yang dilakukan pada penghujung abad 20. Dia mengatakan, “Saya ingat pada suatu kesempatan ketika seorang Brahmins yang berusia lanjut sedang melayang diudara dalam postur tubuh terlentang 1,8 meter diudara terbuka, sekitar setengah jam. Sementara para pendatang dipersilahkan untuk melewatkan gagang pada jarak antara tanah dan Brahmins tersebut. Ernest Wood juga menambahkan bahwa, “Mengambang atau menaikkan tubuh di atas tanah dan melayang beberapa kaki di udara diatas tempat duduk atau sofa…adalah suatu fakta yang secara universal sudah diterima di India.”

Apa yang para Brahmins lakukan di India ternyata adalah mempertontonkan teknik levitasi (levitation). Levitasi adalah kemampuan manusia untuk dapat melayang di udara melawan hukum gravitasi, atau membuat dirinya melayang di udara melalui teknik yang disebut yoga terbang (flying Yogic). Levitasi mirip dengan telekinesis yang bekerja berdasarkan kekuatan pikiran (mind power). Semedi dilakukan dimana Brahmins mencoba bermeditasi, menyelaraskan pikiran dengan alam, kemudian mencoba memanfaatkan cara kerja alam sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari dirinya. Pemahaman seperti, burung adalah bagian dari alam dan menjadi burung berarti bersatu dengan alam, adalah salah satu apa yang coba levitasi gagas. Namun cara tersebut sepertinya tidak bisa dikuasai oleh sembarang orang.

levitasi

Faktanya, telekinesis yang dianggap sebagai gerbang untuk menguasai levitasi adalah cabang ilmu yang sama sekali belum tersentuh oleh logika orang awam, dan cara-cara untuk dapat menguasainya pun cenderung klenik. Ritual, puasa dan lain sebagainya. Jika telekinesis tidak berhasil dikuasai dan kemampuan tersebut hanya bisa dikuasai oleh orang dengan bawaan yang istimewa, berarti levitasi pun adalah jenis yang tidak mungkin dijamah oleh logika sembarang orang. Dan hanya orang dengan kemampuan khusus yang dapat menguasainya. Komunitas peneliti percaya bahwa levitasi belum mungkin dapat dilakukan. Meskipun teks Verdic “Yoga Sutras of Maharishi Pantanjali,” menceritakan tentang kisah pertapa terbang, seperti yang ditunjukkan para Brahmins, tapi kemampuan tersebut tidak mungkin untuk dipelajari semua orang dan meskipun mempelajari, belum tentu orang yang mempelajari tersebut dapat melakukannya (terbang).

Teori mengenai kesadaran yang diubah (Altered States of Conciousness) mungkin adalah pendekatan yang paling mungkin dilakukan dalam mencari kebenaran tentang levitasi. Teori ini telah digunakan untuk meneliti kasus sejarah Saint Joseph Copertino (1603-1663). St. Joseph dikatakan memiliki hubungan spiritual dengan yang Ilahi sehingga “keadannya yang berubah” memungkinkan dia untuk terbang. Menurut The Epoc Times, Dr. Michael Grosso membenarkan kasus St. Joseph. Dalam bukunya yang berjudul “The Man Who Could Fly : St. Josept of Copertino and the Mystery of Levitation,” Dr. Grosso membahas tentang banyaknya saksi mata yang melihat sang imam terbang. Orang suci itu sering melayang sedikit di atas tanah sementara di waktu lain, Ia melayang di atas kerumunan orang di seluruh Italia selama lebih dari 35 tahun. Kemampuan St. Joseph membuat repot pihak gereja dan mereka mencoba untuk membuat kebijakan pergantian posisi imam, dengan memindahkan imam ke gereja lain. Dengan maksud agar tidak menimbulkan kehebohan. St.Joseph ditegur, namun tampaknya ia tidak mampu mengendalikan kemampuan terbangnya.

Klaim paranormal tentang levitasi sebenarnya lebih bersifat spontan, daripada sesuatu yang direncanakan dan dipelajari. Melihat ulang kasus tentang manusia terbang, penjelasan yang mungkin dapat dicapai adalah spontanitas. Beberapa penyebab termasuk diantaranya adalah kerasukan roh, seperti yang terlihat dalam aktivitas Poltergeist.

Levitasi dalam Shamanisme (perdukunan), dilaporkan tidak jauh berbeda dengan kasus manusia terbang yang melibatkan aktivitis spiritual. Dukun dikatakan terbang selama upacara pengobatan atau penyembuhan melalui pemanggilan arwah Tungus. Dalam “Shamanism : Archaic Techniques of Ecstacy,” Mircea Eliade menulis “Shaman menjadi ringan…dan melompat ke udara.”

Dalam laporan The Christian Post yang menampilkan kolom profil dari Dr. Richard Gallagher, membahas tentang seorang wanita berusia 39 tahun bernama Julia yang melayang selama Eksorsisme (pemanggilan arwah). Julia melayang 6 inchi di udara di atas tempat tidur selama hampir 30 menit.

Sejauh ini, belum ada orang yang memfilmkan kasus orang kesurupan yang benar-benar bisa melayang. Namun dalam pertunjukan sulap, yang diidentikkan dengan kemampuan yang tidak biasa, televisi merekam beragam aksi mencengangkan pertunjukan sulap yang dilakukan oleh orang dengan kemampuan yang tidak biasa.

Manusia Terbang di Televisi

Sejak kemunculannya pada tahun 1990an, David Copperfield dianggap melanggar dinamika cara gerak. Cara awam yang mengikuti pengertian hukum gravitasi dibantah karena Copperfield mampu terbang bebas tanpa alat apapun. Dalam dunia yang sudah mengelompokkan nilai sensasi hiburan dan rasa penasaran, Copperfield beruntung dianggap istimewa dan menghadirkan sesuatu yang berbeda. Ia adalah salah satu orang yang mampu melawan hukum gravitasi melalui pertunjukan sulapnya.

Sejak sensasi cerita David Copperfield menyebar dan ditonton masyarakat luas, cerita kuno mengenai penyihir terbang dengan menggunakan sapu pun seolah-olah dibenarkan dan menjadi ulasan banyak media dan buku. Terutama buku, cerita mengenai David Copperfield yang terlibat sekte tertutup yang membentuk ia menjadi manusia berbeda dipublikasikan dengan cara yang sedemikian misterius.

Dalam sebuah buku karangan Muhammad Isa Dawud, mengungkap bahwa David Copperfield ternyata dapat terbang lantaran bantuan jin. Berdasarkan karangan buku yang berhasil membuat heboh dan menjadi best seller di tahun 90an tersebut, tentang “Dialog dengan Jin Muslim,” dimana jin yang berdialog dengan Muhammad Isa Dawud menceritakan tentang dunia jin, serta perjanjian yang dibuat David Copperfield dengan setan. Perjanjian tersebut dalam bahasa Ibrani dimana dikatakan bahwa, “tidaklah jelas kau lihat para setan menggotong David, sehingga dia seolah melayang di angkasa, yang tak lain dan tidak bukan, dia dibantu oleh para setan.”

"Dialog dengan Jin Muslim"
Buku karangan Muhammad Isa Dawud

Muhammad Isa Dawud menangkap cara yang tidak biasa dari kepiawaian seseorang terutama terkait dengan sihir. Dan sejak dulu, dunia shamanist, yang berkaitan erat dengan pemanggilan arwah dan kerasukan roh telah menuliskan banyak hal terkait tentang bagaimana cara bersatu dengan iblis dan kemudian memperoleh kemampuan diluar nalar. David Copperfield adalah contoh kasus manusia terbang yang mendapat perhatian publik, dan ditonton oleh berjuta-juta manusia. Sehingga menarik minat banyak orang untuk mengulasnya, untuk paling tidak dapat mengurangi rasa penasaran, tentang bagaimana dan darimana David Copperfield memperoleh kemampuan yang luar biasa tersebut.

David Copperfield bukanlah satu-satunya pesulap yang mampu terbang ke angkasa melawan hukum gravitasi. Masih ada nama Crist Angel, dimana dalam suatu acara pertunjukan, ia mencoba turun meloncat dari tebing Grand Canyon tanpa menggunakan bantuan alat apapun. Namun Crist Angel dapat melakukannya seolah-olah ia terbang turun dengan menggunakan parasut. Sangat pelan seolah-olah seperti bobot ringan yang sedang melayang diudara.

Di Indonesia sendiri, ada nama Rizuki yang memiliki kemampuan serupa dimana pada suatu acara yang disiarkan televisi, pesulap wanita yang sekarang berjilbab tersebut mendemonstrasikan kemampuan terbangnya. Duduk bersila sedang tangan bergerak seperti menarikan sebuah tarian, Rizuki perlahan-lahan terbang naik hingga ketinggian 2 meter.

Para pesulap tersebut, meninggalkan sebuah pertanyaan dan kadang, jawaban atas pertanyaan tersebut merujuk pada apa yang orang sebut sebagai Levitasi. Meskipun levitasi sendiri berbeda bentuk, namun paham mengenai ritual mistis kuno yang berkaitan erat dengan pemanggilan arwah atau setan yang biasa disebut shamanism, adalah pembuktian yang paling relevan untuk menilai bentuk kemapanan dari sesuatu yang belum bisa diterjemahkan secara ilmiah. Dunia tidak akan menunjuk rumus matematika, kimia atau fisika untuk mencoba membuktikan kenapa para pesulap yang terlibat pada acara sulap di televisi dapat terbang, yang nyata-nyata melanggar rumus yang kebanyakan orang ketahui.

Seperti apa yang Muhammad Isa Dawud tulis dalam bukunya, jika memang benar pesulap seperti David Copperfield, dan lain-lain memperoleh kemampuan terbangnya karena membuat perjanjian dengan iblis atau jin, disini, satu-satunya rujukan mengenai bagaimana cara membuktikan kebenaran tentang manusia terbang dan hal lain yang diluar nalar adalah dengan membuktikan kebenaran keberadaan setan, iblis, atau jin yang dikatakan sebagai pemicu orang untuk dapat terbang. Cara kaum shaman, yang membangkitkan dan memanggil arwah dan kemudian bersatu dengan tubuh lebih menjadi rujukan daripada rumus kimia, fisika, ataupun matematika.

Lantas, kemudian orang akan cenderung menghubungi paranormal, atau pemanggil hantu untuk dapat pertama-tama berkomunikasi dengan sumbernya, yaitu jin, atau iblis, sebelum mendapatkan kemampuan terbang. Banyak telaah metafisika yang menganjurkan bahwa keterlibatan dimensi lain dari dunia jin dan iblis, layak untuk dicoba. Dan karena itu menjadi sesuatu yang satu-satunya orang awam ketahui, maka ritual seperti pemanggilan arwah atau eksorsisme pun dilakukan.

Selain eksorsisme, cara lain adalah dengan bermeditasi atau menyepi di hutan atau gunung pada malam hari, untuk menemui makhluk metafisis yang berwujud hantu atau jin. Hutan dan gunung adalah lingkungan yang tepat karena sepi, belum banyak yang menjamah atau jauh dari keramaian. Cara ini tergolong ekstrim karena membutuhkan keberanian. Orang yang takut biasanya akan lari setelah melihat hantu atau jin sebelum mampu berkomunikasi dengan makhluk metafisis tersebut.

Adalah “Helm Ijo”, yang hari ini mencoba secara lugu melakukan penelusuran pedagogi untuk membuktikan bagaimana kecerdasan metafisis bekerja. Untuk membuktikan cara-cara shamant, dan untuk membuktikan bagaimana mitos mengenai kemampuan diluar nalar hanya ada dalam pencerahan versi paranormal. Bukan dimensi yang bisa diukur melalui ilmu pengetahuan. Beruntung, bahwa helm ijo bukanlah pesulap, tetapi ia adalah seorang pemburu hantu (ghost hunter). Jadi ia, adalah rujukan awal penelusuran yang tepat untuk membuktikan bahwa komunikasi antara dunia jin atau setan dan dunia manusia dapat diwujudkan.

Pembaca dapat melihat bagaimana aksi lugu helm ijo memburu hantu dan fakta mengenai hal kuno yang sering diceritakan seperti sihir, telekinesis, menghilang, nyata terlihat dan terjadi di channel dunia misteri dan dunia nyata yang rutin tayang di Youtube. Helm ijo mencoba mengungkap bagaimana mitos tentang penyihir dan ilmu sihir sebenarnya adalah bentuk komunikasi metafisis yang ia dapat dan telusuri di hutan gunung. Meskipun belum mengungkap fakta mengenai terbang, namun dalam sebuah episode helm ijo sudah membuktikan kemampuan menghilang. Yang menurut pengakuannya, ternyata ia sedang diculik oleh jin hitam untuk diajak kedunia jin, sebelum ia pulang beberapa hari kemudian. Meskipun menumbulkan kepanikan, tapi helm ijo baik-baik saja dan pulang dalam keadaan tidak kurang suatu apa setelah beberapa hari diculik oleh jin. Cara helm ijo diculik oleh jin, sangat luar biasa mengejutkan. Caranya mirip dengan dongeng penyihir yang mengeluarkan asap sebelum menghilang, namun saat helm ijo menghilang tiba-tiba, itulah yang terjadi. Berikut adalah link penelusuran helm ijo yang dilakukan di sebuah lokasi di hutan gunung. (link : https://www.youtube.com/watch?v=jhcKue2Kcd4)

Dalam episode lain, helm ijo juga berhasil menjelaskan bagaimana praktek telekinesis bekerja. Dimana dengan hanya melihat, kopi dalam teko berhasil dituang ke dalam gelas. Menurut pengakuan helm ijo, praktek telekinesis tersebut terjadi karena ia didatangi oleh makhluk metafisis yang tidak tertangkap kamera, sehingga kamera tidak melihat saat makhluk tersebut menuang kopi dari teko ke gelas. Yang terlihat adalah teko bergerak sendiri. (link : https://www.youtube.com/watch?v=6FqOBUsyqC4)

Cara Helm Ijo cenderung lugu dan seolah-olah, tidak mengarah pada tujuan apapun selain hiburan. Namun dunia yang masih mencari penjelasan tentang sihir dan sesuatu yang belum mampu dijelaskan dengan rumus kimia, fisika, matematika, dan pengetahuan ilmiah lain, akan melihat bahwa apa yang helm ijo praktekkan adalah bisa jadi satu-satunya rujukan. Kebanyakan orang akan tertawa jika helm ijo adalah referensi. Namun, dunia metafisis butuh helm ijo, sebagai studi awal untuk memperoleh kesaktian yang mirip sihir seperti menghilang, telekinesis atau menggerakkan benda dan terutama membuktikan apakah manusia, betulan dapat terbang atau tidak. Sampai saat ini, helm ijo masih aktif berburu hantu dan channel helm ijo, total sudah ditonton jutaan kali.

Bersambung…

Huruf Kesepuluh (Bagian : 2)

Ssttt...sedang mencuri dengar Ar-Ra’d ayat 38 : Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu, dan kami memberikan kepad...